Oleh: Nadeem
(Kolumnis, Pemerhati Kue dan Angpao Lebaran)
“Dalam agama Islam, makanan manis telah menjadi aspek spiritual tradisional, melambangkan berkah dari Tuhan bagi para manusia, dan wujud cinta manusia kepada Tuhan.”
Ucapan Priscilla Mary Isin di atas, seorang penulis dan sejarawan makanan yang tinggal di Istanbul seolah menjadi justifikasi penyajian makanan dan minuman manis saat lebaran atau hari Raya Idul Fitri.
Sebenarnya, mengonsumsi makanan dan minuman manis sudah dimulai sejak puasa Ramadhan mulai dijalankan. Tak hanya saat lebaran saja. Dengan alasan dalil perintah Nabi Saw. yang menyarankan untuk berbuka dengan makanan atau minuman yang manis: “Berbukalah dengan yang manis” yang justru kemudian diplesetkan para istri maupun suami, juga lebih banyak lagi oleh anak muda, hanya untuk pamer berbuka bersama. Baik beramai-ramai maupun cuma berdua bersama pasangan. Berbuka di restoran, di cafe, di mall, di taman, di kebun, di sawah, di rumah atau di manapun. Untuk kemudian diabadikan momennya, di foto dengan berbagai posisi dan pose, lantas diupload di sosial media mereka. Tentu dengan caption yang sama: Berbukalah dengan yang manis.
Berbuka dengan yang manis, cuma mengacu pada kawan berbukanya, bukan makanan ataupun menu berbukanya. Selain, makanan berat (main dishes), yang disantap saat berbuka justru yang gurih-gurih. Berbuka dengan yang manis hanya tinggal slogan belaka.
Entah hanya untuk pamer pasangan berbukanya atau ingin menunjukkan bahwa dia ikutan berpuasa –padahal ibadah wajib. Entahlah. Saya tidak ingin menghukumi dan menghakimi niat orang.
Padahal, tak pernah ada hadist Rasulullah Saw. yang menyebut “Berbukalah dengan yang manis”, atau yang secara spesifik Nabi Saw. menyebut begitu. Rasulullah Saw. hanya menyarankan umatnya berbuka dengan kurma atau dengan air putih.
Kurma, ya memang rasa dan sifat buahnya memang manis. Dari sananya sudah begitu. Kemudian diintrepretasikan dan dipersepsikan secara ‘sok filsuf’ dan ‘sok linguistik’ sebagai sesuatu yang manis. Celakanya, hal itu diikuti oleh banyak orang, yang ikut-ikut menyebut hadist ‘palsu’. Kata palsu, saya kasih tanda petik, karena saya bukan ahli hadist. Saya tidak ingin dimaki-maki banyak orang, terutama umat muslim, apalagi oleh para ulama’ dan santri, karena sok-sok’an menghukumi hadist.
Pada abad ke-13, Jalaludin Rumi, sang pujangga sufisme, sering menggunakan kata ‘Helva” untuk mengacu pada sesuatu yang manis, indah, menyenangkan, menggemberikan, penghargaan, penghormatan dan euforia.
Helva, kata yang berasal dari bahasa Arab bermakna makanan manis. Menariknya, ‘helva’ juga bisa dipakai sebagai metafora untuk konsep religius oleh Rumi.
Konsep yang kemudian ditangkap secara eksplisit oleh umat muslim, tak hanya di Indonesia, juga di seluruh dunia. Terutama saat perayaan Hari Raya atau Lebaran, sebagai hari kemenangan, hari euforia religius.
Menyajikan makanan manis saat lebaran nggak hanya menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia. Di Turki, warganya terbiasa menyajikan Baklava dan Güllaç, semacam puding berlapis yang terbuat dari wafer, pati, dan disiram dengan susu dengan cita rasa yang tentu saja manis, saat lebaran.
Pun begitu, masyarakat Afghanistan. Di sana terbiasa menyajikan sheer kurma, yang terdiri dari puding susu yang dipadukan dengan bihun, susu, kurma, dan cacahan kacang-kacangan. Rasanya? Tentu saja manis!
Sementara di Indonesia? Anda bisa menghitung sendiri seluruh sajian manis yang disuguhkan kepada Anda dan Anda cicipi saat lebaran.
Jujur saja, di antara kesibukan saat bertamu ke rumah kerabat, saudara, famili, tetangga dan kawan saat lebaran, coba Anda hitung sendiri, semua suguhan yang disajikan untuk anda: dari semua suguhan di piring, toples, dan di gelas, ada berapa yang nggak manis? Hampir nol! Semuanya manis.
Mungkin yang nggak manis cuma satu, yakni rengginang, sebagai ‘suguhan wajib rakyat saat lebaran’. Yang lainnya? Semuanya manis!
Bahkan, makanan dan kue lebaran yang kita sediakan sendiri di rumah kita, jika Anda jujur mau hitungnya juga, ada berapa yang nggak manis?
Hal itu seolah menggambarkan, lebaran merupakan pesta religius yang manis.
“Makanan manis melambangkan niat baik, nasib baik dan kebahagiaan, sehingga menjadikannya sebagai bagian dari perayaan keagamaan (seperti hari raya) dan acara-acara gembira seperti pernikahan,” ucapan Priscilla ini juga mempertegas kemanisan lebaran yang wajib dihadirkan.
Kemanisan, yang tak hanya ada di sajian lebarannya yang semuanya serba manis, pun senyum-senyum yang tersungging, dari wajah-wajah yang manis, bersalam-salaman, berpelukan dengan hati yang manis dan terbuka, saling bermaaf-maafan, pun juga manis-manis.
Senyum-senyum manis, disertai gelak tawa yang mengiringi pertemuan keluarga, berkumpul bersilaturrahmi dalam satu suasana, seusai tangis haru saat sungkem kepada orang tua, memohon maaf dan meminta ridho keduanya. Menjadikan suasana lebaran semakin bertambah manis. Momen manis yang selalu dikenang dan dirindukan, di setiap tahun, di setiap lebaran.
Mau diakui atau tidak, lebaran adalah puncak dari segala rasa manis. Kasta tertinggi dari segala hal yang manis. Kulminasi dari segala bentuk kemanisan.
Kemanisan, yang secara bahasa dimaknai sebagai bentuk rasa manis yang terlalu dan sangat. Semua rasa manis yang bertingkat-tingkat dan bertumpuk-tumpuk kemudian tergumpal menyatu di momen lebaran.
Gumpalan rasa manis, yang semoga saja tidak menjadi penyakit bagi kita, seusai lebaran nanti. Rasa manis, yang justru kemudian menjadi rasa rindu yang menggumpal, menjadi doa-doa dan harapan, bisa berkumpul di lebaran-lebaran selanjutnya, di tahun-tahun yang akan datang
Selamat berlebaran manis.
Dengan hati dan senyum yang manis, meskipun tak nampak, kami memohon dibukakan pintu maaf.
Oh, lebaran manis.
Semoga kita semua dipertemukan lagi di lebaran manis berikutnya, di tahun-tahun yang akan datang.