By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inilah Kita – Inspirasi, Informasi, dan Budaya IndonesiaInilah Kita – Inspirasi, Informasi, dan Budaya IndonesiaInilah Kita – Inspirasi, Informasi, dan Budaya Indonesia
  • Home
  • Sekitar Kita
  • DialeKita
  • Nusantara
  • Akademika
  • Komunitas
  • Generasi
  • Kiat Kita
Reading: Mesin Bisa Menjawab, Tapi Manusia yang Harus Bertanya
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Inilah Kita – Inspirasi, Informasi, dan Budaya IndonesiaInilah Kita – Inspirasi, Informasi, dan Budaya Indonesia
Font ResizerAa
  • Home
  • Sekitar Kita
  • DialeKita
  • Nusantara
  • Akademika
  • Komunitas
  • Generasi
  • Kiat Kita
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inilah Kita
Inilah Kita – Inspirasi, Informasi, dan Budaya Indonesia > Blog > Akademika > Mesin Bisa Menjawab, Tapi Manusia yang Harus Bertanya
Akademika

Mesin Bisa Menjawab, Tapi Manusia yang Harus Bertanya

Diana Febryyanti (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Redaksi Kita
Redaksi Kita Published 25/10/2026
Share
mesin ai
SHARE

Inilah Kita | Dalam hitungan detik, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini bisa merangkum jurnal, menulis esai, menyusun kode program, hingga menjelaskan teori rumit dengan bahasa sederhana. Pekerjaan yang dulu memerlukan berjam-jam di perpustakaan kini cukup diselesaikan dengan satu kalimat perintah. Di tengah rasa takjub itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan: jika jawaban sudah begitu mudah didapat, apa yang masih menjadi tugas manusia?

Contents
Jawaban yang Cepat Belum Tentu BenarKualitas Jawaban Ditentukan Kualitas PertanyaanBahaya Menyerahkan Proses BerpikirPendidikan sebagai Garda TerdepanMembiasakan Tiga PertanyaanTetap Menjadi PengemudiDaftar Pustaka

Pelukis Pablo Picasso tercatat pernah berkata kepada William Fifield bahwa mesin hitung raksasa itu tidak berguna karena hanya bisa memberi jawaban (Fifield, 1964). Ucapan itu dilontarkan jauh sebelum era AI generatif, tetapi terasa semakin relevan hari ini. Jawaban kian murah dan melimpah, sedangkan yang justru langka adalah pertanyaan yang tepat. Di sanalah letak peran manusia yang tidak bisa dialihdayakan kepada mesin.

Jawaban yang Cepat Belum Tentu Benar

Model AI bekerja dengan mengenali pola dari data berukuran sangat besar, lalu menyusun respons yang tampak masuk akal. Itu sebabnya jawabannya terdengar meyakinkan, bahkan ketika keliru. Fenomena ini dikenal sebagai halusinasi AI: sistem menghasilkan informasi yang tampak faktual, padahal salah atau tidak memiliki sumber (lihat Daftar Pustaka). Kutipan fiktif, angka yang dikarang, atau peristiwa yang tidak pernah terjadi bisa disajikan dengan nada percaya diri yang sama seperti fakta yang benar.

Bagi masyarakat yang sudah akrab dengan banjir hoaks, ini bukan persoalan sepele. Kebiasaan “viral dulu, verifikasi belakangan” bisa menemukan wujud baru: “AI yang bilang, jadi pasti benar.” Tanpa kemampuan bertanya lanjut, seperti dari mana sumbernya, apa buktinya, dan adakah sudut pandang lain, kita hanya berpindah dari percaya pada kabar berantai menjadi percaya pada mesin.

Kualitas Jawaban Ditentukan Kualitas Pertanyaan

Siapa pun yang rutin memakai AI tahu bahwa pertanyaan yang kabur menghasilkan jawaban yang kabur. Perintah “buatkan esai tentang pendidikan” akan melahirkan teks generik yang bisa ditulis siapa saja. Sebaliknya, pertanyaan yang spesifik, berkonteks, dan berangkat dari pemahaman atas masalah akan menghasilkan jawaban yang jauh lebih berguna. Merumuskan pertanyaan yang baik menuntut kita memahami persoalan, menyadari apa yang belum kita ketahui, dan menentukan arah yang ingin dituju. Semua itu adalah kerja berpikir, bukan kerja mesin.

Dengan kata lain, AI memperbesar kemampuan yang sudah kita miliki. Orang yang terbiasa berpikir kritis akan terbantu menjadi lebih produktif. Orang yang tidak terbiasa berpikir mungkin hanya akan menghasilkan lebih banyak hal yang dangkal dalam waktu lebih singkat.

Bahaya Menyerahkan Proses Berpikir

Godaan terbesar AI bukan terletak pada kecanggihannya, melainkan pada kenyamanannya. Ketika setiap kesulitan bisa dilewati dengan satu perintah, kita berisiko melewatkan proses yang sebenarnya membentuk kemampuan: bergulat dengan ide, keliru, merevisi, lalu paham. Mahasiswa yang menyalin hasil AI tanpa membacanya ulang mungkin mendapatkan tugas yang selesai, tetapi tidak mendapatkan pemahaman. Profesional yang menerima rekomendasi mesin tanpa menimbang konteks bisa mengambil keputusan keliru yang sulit dipertanggungjawabkan. Mesin tidak dapat dimintai pertanggungjawaban moral, sedangkan manusia yang memakainya bisa dan harus.

Pendidikan sebagai Garda Terdepan

Respons dunia pendidikan terhadap AI sebaiknya bukan sekadar larangan atau pembiaran. Dalam panduannya tentang AI generatif di bidang pendidikan dan riset yang terbit pada 2023, UNESCO menekankan visi yang berpusat pada manusia (human-centred) agar AI menjadi alat yang benar-benar memberdayakan guru, peserta didik, dan peneliti (Miao & Holmes, 2023). Tantangannya ada pada praktik, termasuk di Indonesia: apakah ruang kelas sudah lebih banyak menilai kemampuan bertanya, menguji argumen, dan memeriksa sumber, ataukah masih berfokus pada kemampuan menghafal jawaban yang kini bisa dihasilkan mesin dalam sekejap?

Guru dan dosen dapat memulai dari langkah sederhana, yaitu meminta peserta didik melampirkan pertanyaan yang mereka ajukan kepada AI, menjelaskan cara mereka memverifikasi jawabannya, dan mengkritik hasil yang diberikan. Dengan cara ini, AI menjadi bahan latihan berpikir, bukan jalan pintas.

Membiasakan Tiga Pertanyaan

Di luar ruang kelas, ada kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan siapa saja. Sebelum memakai jawaban AI, ajukan tiga pertanyaan kepada diri sendiri. Pertama, apa sumbernya dan bisakah saya memeriksanya? Kedua, apakah jawaban ini sesuai dengan konteks persoalan saya? Ketiga, apa yang belum terjawab atau mungkin terlewat? Ketiganya tidak membutuhkan keahlian teknis, hanya kemauan untuk tidak berhenti pada jawaban pertama.

Tetap Menjadi Pengemudi

Era AI sering digambarkan sebagai pertarungan manusia melawan mesin. Kerangka itu menyesatkan. Persoalan sebenarnya adalah apakah kita tetap menjadi pengemudi atau berubah menjadi penumpang yang menurut saja. Mesin akan terus semakin pandai menjawab. Tugas kita adalah memastikan diri tetap menjadi pihak yang pandai bertanya: yang ragu pada saat yang tepat, penasaran melampaui hal yang tampak, dan berani bertanggung jawab atas keputusan akhir.

Pada akhirnya, kemajuan tidak ditentukan oleh seberapa banyak jawaban yang kita miliki, melainkan oleh seberapa baik pertanyaan yang berani kita ajukan.

Daftar Pustaka

Fifield, W. (1964). Pablo Picasso: A Composite Interview. The Paris Review (Summer/Fall 1964). Penelusuran asal kutipan: Quote Investigator, “Computers Are Useless. They Can Only Give You Answers.” Diakses dari https://quoteinvestigator.com/2011/11/05/computers-useless/

Miao, F., & Holmes, W. (2023). Guidance for Generative AI in Education and Research. Paris: UNESCO. Diakses dari https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000386693

UNESCO. (2023, 7 September). UNESCO: Governments must quickly regulate Generative AI in schools. Diakses dari https://www.unesco.org/en/articles/unesco-governments-must-quickly-regulate-generative-ai-schools?hub=701

A Comprehensive Taxonomy of Hallucinations in Large Language Models (arXiv:2508.01781). Diakses dari https://arxiv.org/html/2508.01781v1

 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Email
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Meningkatkan  SDM Melalui Pelatihan Public Speaking Di Gereja Katolik Santo Barnabas Pamulang

Latest News

Meningkatkan  SDM Melalui Pelatihan Public Speaking Di Gereja Katolik Santo Barnabas Pamulang
Akademika
public speaking
Public Speaking: Kompetensi SDM yang Sering Dianggap Remeh
Akademika
Public Speaking sebagai Keterampilan Komunikasi di Era Digital
Akademika
public speaking
Public Speaking: Kunci Kepercayaan Diri dan Komunikasi yang Efektif
Akademika
bicara publik
Seni Berbicara di Depan Umum: Bekal yang Ternyata Bisa Dipelajari Siapa Saja
Akademika
mendengar dan bicara
Peran Listening dan Critical Thinking dalam Meningkatkan Efektivitas Public Speaking
Akademika
bicara di depan umum
Etika Berbicara: Kunci Kepercayaan di Depan Publik
Akademika

JASA ARTIKEL SEO

Mau website usaha Anda mudah ditemukan dalam mesin pencari Google? Digital Media Labs melayani jasa penulisan artikel SEO.
Hubungi kami di: 081297176001

Jasa Blogroll & Publikasi

  1. Suara Muslim
  2. Seputar Masjid
  3. Seputar Halal
  4. Seputar Kuliner
  5. Seputar Kesehatan
  6. Promo UKM
  7. Wisata Indonesia
  8. Beasiswa Kampus
  9. Indonesia Sentris
  10. Seputar Rumah
  11. Seputar Keamanan
  12. Kota Surabaya
  13. Info Nasional
  14. Info Perkotaan
  15. Berita Santai
  16. Berita Kamera
  17. Suara Pesantren
  18. Info Market

 

Jasa Publikasi di 150+ Website

Baca Artikel Lain

komunikasi
Akademika

Teknik Berbicara, Strategi Penyampaian dan Pengelolaan Kecemasan Komunikasi Lisan

14/10/2026
public speaking
Akademika

Di Era Digital, Mengapa Kemampuan Berbicara di Depan Umum Penting?

14/10/2026
bicara umum
Akademika

Manfaat Public Speaking untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri

13/10/2026
bicara di depan umum
Akademika

Gagasan Cemerlang yang Tenggelam di Atas Panggung: Mengapa Cara Menyampaikan Sama Pentingnya dengan Isi

13/10/2026
Previous Next

Ikon Logo Inilah Kita

Jasa Blogroll & Publikasi Artikel

Promo UKM | Wisata Indonesia | Media Outsourcing | Beasiswa Kampus | Indonesia Sentris | Seputar Rumah | Seputar Keamanan | Kota Surabaya | Info Nasional | Info Perkotaan | Ini Bekasi | Suara Muslim | Seputar Masjid | Seputar Halal | Seputar Kuliner | Suara Pesantren |Kesehatan | Portal Mahasiswa | Kirim Artikel | Info Pasar

Kategori

  • Akademika
  • DialeKita
  • Generasi
  • Kiat Kita
  • Komunitas
  • Nusantara
  • Sekitar Kita

Inilah Kita

  • About
  • Kontak
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media
  • Term & Condition
Seedbacklink

Inilah Kita – Inspirasi, Informasi, dan Budaya IndonesiaInilah Kita – Inspirasi, Informasi, dan Budaya Indonesia
©2024 Inilah Kita
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?