Inilahkita.com | Pada hari Rabu, 12 November 2025, kami—kelompok mahasiswa Manajemen yang berjumlah 15 orang—melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Pondok Pesantren Daarul Azmi, yang berlokasi di Desa Cibinong, RT 03/11, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk implementasi ilmu yang kami peroleh selama perkuliahan serta wujud nyata dari kepedulian kami terhadap masyarakat, khususnya lingkungan pendidikan berbasis pesantren.
Sejak awal penyusunan program, kami menyepakati bahwa kegiatan pengabdian harus memiliki manfaat konkret bagi santri dan pesantren. Oleh karena itu, kami merancang kegiatan seminar yang meliputi tiga topik utama: keuangan, sumber daya manusia (SDM), dan pemasaran. Untuk memaksimalkan pelaksanaan, kami membagi 15 mahasiswa tersebut ke dalam 5 kelompok, masing-masing terdiri dari 3 orang, dan setiap kelompok fokus pada materi tertentu yang sesuai dengan bidang keilmuan yang dikuasai.
Kelompok kami, yang seluruh anggotanya adalah mahasiswa Manajemen Keuangan, memilih tema “Edukasi Pengelolaan Keuangan Pribadi bagi Santri”. Kami melihat bahwa literasi keuangan adalah keterampilan yang penting bagi semua kalangan, termasuk santri yang hidup dalam sistem pengelolaan kebutuhan harian berbasis pesantren. Dengan memahami bagaimana cara mengatur pemasukan dan pengeluaran, menentukan prioritas, serta menabung secara konsisten, santri dapat membangun kebiasaan finansial yang bermanfaat bagi masa depan mereka.
Kegiatan dimulai sejak pagi. Setelah penyambutan oleh pengurus pesantren dan guru-guru di sana, seluruh santri dikumpulkan di aula untuk mengikuti seminar. Suasana awal tampak penuh rasa ingin tahu. Sebagian santri terlihat penasaran dan antusias, sementara sebagian lainnya menunggu materi disampaikan sebelum menunjukkan reaksi. Bagi kami, ini menjadi tantangan sekaligus motivasi untuk membawakan materi dengan cara yang komunikatif dan relevan dengan kehidupan para peserta.
Dalam sesi kami, materi pengelolaan keuangan pribadi kami susun secara sederhana namun aplikatif. Kami memulai dengan menanyakan apakah santri memiliki uang saku mingguan atau bulanan, dan bagaimana mereka membelanjakannya. Pertanyaan sederhana ini terbukti efektif sebagai pembuka, karena banyak santri saling menanggapi dan berbagi cerita mengenai pengalaman mengatur uang saku mereka. Ada yang menghabiskan uang saku terutama untuk kebutuhan makanan tambahan, ada yang menabung untuk membeli perlengkapan tertentu, dan ada juga yang mengaku tidak terlalu memikirkan pengeluaran selama uang mencukupi. Dari situ, kami masuk ke inti materi.
Kami menyampaikan konsep dasar pengelolaan keuangan, seperti pencatatan pemasukan dan pengeluaran, manajemen kebutuhan dan keinginan, strategi menabung, serta pengenalan instrumen keuangan yang sederhana. Kami tidak masuk ke ranah teknis seperti investasi atau produk keuangan kompleks, karena tujuan utama kami adalah menanamkan kebiasaan positif sejak dini. Kami juga menjelaskan bahwa pengelolaan keuangan bukan hanya soal angka, tetapi juga soal disiplin, kebiasaan, dan pengambilan keputusan yang tepat.
Selama pemaparan, beberapa santri mengajukan pertanyaan. Misalnya, bagaimana cara menabung kalau uang saku pas-pasan, atau bagaimana cara menghindari pengeluaran yang tidak penting ketika lingkungan sekitar mengajak jajan bersama. Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa literasi keuangan memang menjadi kebutuhan, bahkan dalam ruang lingkup sederhana. Kami menekankan bahwa menabung tidak harus dimulai dari nominal besar, dan bahwa keberhasilan finansial di masa depan justru berawal dari disiplin kecil yang dilakukan setiap hari.
Selain kelompok kami, kelompok lain membawakan materi SDM dan pemasaran dengan pendekatan yang serupa: sederhana, aplikatif, dan kontekstual dengan kehidupan santri. Seminar berlangsung dalam suasana interaktif. Setelah seluruh sesi materi selesai, acara dilanjutkan dengan games edukatif yang kami siapkan sebelumnya. Tujuan games bukan sekadar hiburan, tetapi juga penguatan materi. Dalam games tersebut, santri diminta menjawab pertanyaan, memecahkan studi kasus sederhana, dan berkelompok untuk mendiskusikan pilihan keuangan tertentu. Suasana menjadi lebih cair dan penuh tawa, karena games memberi kesempatan bagi santri untuk belajar sambil bergerak dan berkompetisi secara sehat.
Setelah rangkaian edukasi dan games selesai, kegiatan memasuki tahap akhir yaitu kerja bakti renovasi musholla. Pada sesi ini, kami dan para santri membersihkan area musholla, mengecat bagian yang kusam, menata kembali rak sepatu dan perlengkapan ibadah, serta merapikan halaman sekitar. Meskipun terdengar melelahkan, aktivitas ini justru mempererat kebersamaan antara kami dan para santri. Kami merasakan langsung bagaimana kerja gotong royong menjadi nilai yang sangat dijunjung di lingkungan pesantren.
Pengurus Pesantren Daarul Azmi menyambut kegiatan kami dengan sangat baik. Mereka menyampaikan bahwa program edukasi seperti ini jarang diperoleh santri, khususnya di bidang literasi keuangan. Mereka berharap kegiatan seperti ini dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya, bahkan mungkin berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas antara kampus dan pesantren.
Bagi kami sendiri, kegiatan ini bukan hanya sarana untuk menerapkan teori dari bangku kuliah, tetapi juga pengalaman nyata tentang bagaimana ilmu bisa berdampak bagi masyarakat. Kami belajar menyusun program, berinteraksi dengan peserta dari latar belakang yang berbeda, berbicara di depan umum, menghadapi situasi tidak terduga, hingga berkolaborasi dalam kerja fisik. Semua hal tersebut menjadi pembelajaran berharga di luar ruang kelas.
Kami berharap kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dapat memberikan manfaat berkelanjutan, baik bagi santri maupun pesantren. Santri mendapatkan wawasan baru tentang pengelolaan keuangan, pesantren mendapatkan dukungan sosial melalui renovasi fasilitas, dan kami mendapatkan pengalaman sosial yang memperkaya cara pandang serta rasa tanggung jawab sebagai mahasiswa. Pada akhirnya, kami percaya bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bisa dirasakan, dibagikan, dan diterapkan di kehidupan nyata.[]
Penulis:
1. Nur Avni Indahsari
2. Rahma Fadhila
3. Muhamad Faruq Setiadi
