By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inilah KitaInilah KitaInilah Kita
  • Home
  • Sekitar Kita
  • DialeKita
  • Nusantara
  • Akademika
  • Komunitas
  • Generasi
  • Kiat Kita
Reading: Menumbuhkan Kepercayaan Diri Remaja di Tengah Arus Perbandingan Sosial di Medsos
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Inilah KitaInilah Kita
Font ResizerAa
  • Home
  • Sekitar Kita
  • DialeKita
  • Nusantara
  • Akademika
  • Komunitas
  • Generasi
  • Kiat Kita
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inilah Kita
Inilah Kita > Blog > Akademika > Menumbuhkan Kepercayaan Diri Remaja di Tengah Arus Perbandingan Sosial di Medsos
Akademika

Menumbuhkan Kepercayaan Diri Remaja di Tengah Arus Perbandingan Sosial di Medsos

Aulia syahrani & Rafi Isnanda Putra (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Redaksi Kita
Redaksi Kita Published 22/09/2026
Share
media sosial remaja
SHARE

Inilah Kita | Penetrasi internet di Indonesia yang telah menjangkau lebih dari 80% populasi mendorong remaja menghabiskan sebagian besar waktu hariannya di media sosial. Fenomena ini memunculkan persoalan yang tengah ramai diperbincangkan, yaitu menurunnya kepercayaan diri (self-confidence) remaja akibat kebiasaan membandingkan diri (social comparison) dengan citra ideal yang ditampilkan pengguna lain maupun figur publik di dunia maya. Artikel ini bertujuan mengkaji secara literatur bagaimana media sosial memengaruhi kepercayaan diri remaja serta merumuskan strategi psikologis dan edukatif untuk menumbuhkannya kembali. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (libraryresearch) dengan menelaah artikel jurnal, laporan lembaga resmi, dan pemberitaan terkini yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial yang tinggi berkorelasi dengan meningkatnya rasa tidak aman (insecurity), fear of missing out(FOMO), gangguan citra tubuh, serta risiko cyberbullying yang seluruhnya berkontribusi pada penurunan kepercayaan diri remaja. Di sisi lain, ditemukan pula bahwa kepercayaan diri dapat ditumbuhkan kembali melalui penguatan literasi digital, dukungan keluarga dan lingkungan sosial, praktik penerimaan diri (self-acceptance), serta pembatasan penggunaan media sosial yang lebih sehat. Artikel ini merekomendasikan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan pembuat kebijakan digital dalam membangun ekosistem media sosial yang lebih ramah bagi perkembangan psikologis remaja.

Contents
PENDAHULUANMETODE PENULISANPEMBAHASANKESIMPULANDAFTAR PUSTAKA

Kata Kunci: kepercayaan diri, media sosial, remaja, social comparison, literasi digital

PENDAHULUAN

Transformasi digital yang berlangsung cepat telah mengubah cara remaja berinteraksi, mengekspresikan diri, dan menilai keberhasilan hidup. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 mencatat bahwa tingkat penetrasi internet nasional telah melampaui 80% dari total populasi, dengan remaja sebagai kelompok pengguna paling aktif (Eprints UPJ, 2025). Sementara itu, data Priori Data yang dikutip Good News fromIndonesia (2025) menyebutkan bahwa secara global pengguna media sosial mencapai lebih dari 5,3 miliar orang dengan rata-rata durasi akses sekitar dua setengah jam per hari. Angka-angka ini menegaskan bahwa media sosial bukan lagi sekadar sarana hiburan, melainkan ruang sosial utama tempat remaja membangun identitas dan citra dirinya.

Di balik manfaatnya sebagai sarana belajar, berkreasi, dan menjalin relasi, media sosial juga menyimpan sisi yang perlu diwaspadai. Kemudahan mengakses unggahan pencapaian, gaya hidup, dan penampilan fisik yang tampak sempurna dari pengguna lain mendorong remaja secara tidak sadar melakukan perbandingan sosial (self-comparison), yakni menilai diri sendiri berdasarkan apa yang terlihat di layar gawai (Good News from Indonesia, 2025). Kebiasaan ini, sebagaimana disampaikan narasumber dalam siaran RRI Singaraja (2026), kerap memicu perasaan kurang percaya diri dan overthinking ketika pencapaian orang lain dijadikan tolok ukur keberhasilan pribadi, ditambah fenomena fear of missing out (FOMO) yang membuat remaja merasa tertinggal.

Isu ini semakin relevan mengingat maraknya persoalan cyberbullying yang menyertai penggunaan media sosial. Riset Center for Digital Society (2021) menemukan bahwa 45,35% siswa SMP dan SMA pernah menjadi korban perundungan daring, sementara jajak pendapat U-Report UNICEF (2022) terhadap 2.777 anak muda Indonesia usia 14–24 tahun melaporkan 45% di antaranya pernah mengalami perundungan serupa (dikutip dalam Malvika, t.t.; Assanet al., 2024). Dampak yang paling sering diidentifikasi dari pengalaman tersebut adalah menurunnya kepercayaan diri, munculnya rasa terasing, malu, dan minder pada remaja korban (Malvika, t.t.).

Selain perundungan, tekanan standar kecantikan yang ditampilkan figur publik dan influencerturut memperkuat krisis identitas dan body insecurity pada remaja, khususnya remaja perempuan, yang pada akhirnya berdampak pada rasa percaya diri mereka (Riswana et al., 2023, dikutip dalam Eprints UPJ, 2025). Kajian Kanda dan Oktaviani (2024) terhadap Generasi Z di Kota Cimahi turut menegaskan keterkaitan erat antara paparan media sosial dan persepsi citra tubuh yang memengaruhi rasa percaya diri. Berdasarkan uraian tersebut, artikel ini disusun untuk mengkaji secara mendalam bagaimana media sosial memengaruhi kepercayaan diri remaja serta merumuskan upaya menumbuhkan kembali kepercayaan diri tersebut di tengah arus digital yang tidak dapat dihindari.

METODE PENULISAN

Artikel ini disusun menggunakan metode studi kepustakaan (library research), yaitu dengan menelaah dan mensintesis berbagai sumber ilmiah yang relevan, meliputi artikel jurnal nasional bereputasi, laporan resmi lembaga seperti APJII dan UNICEF, serta liputan media terkini mengenai fenomena media sosial dan kepercayaan diri remaja di Indonesia. Sumber-sumber tersebut dianalisis secara deskriptif-kualitatif untuk menemukan pola hubungan antara penggunaan media sosial dan tingkat kepercayaan diri remaja, sekaligus mengidentifikasi strategi yang telah terbukti efektif dalam berbagai kajian untuk menumbuhkan kembali kepercayaan diri tersebut.

PEMBAHASAN

Media Sosial dan Fenomena Perbandingan Sosial pada Remaja

Masa remaja merupakan periode kritis dalam pembentukan identitas diri, di mana individu sangat peka terhadap penilaian dan pengakuan dari lingkungan sosialnya. Media sosial memperbesar ruang penilaian tersebut hingga melampaui lingkungan fisik sehari-hari. Ketika remaja terus-menerus terpapar unggahan yang menampilkan versi kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih menarik, atau lebih bahagia, muncul kecenderungan untuk membandingkan diri secara tidak seimbang, yang pada gilirannya menimbulkan rasa tidak aman dan menurunkan kepercayaan diri (Pratiwi, t.t.; Syauqii, 2022, dikutip dalam Pratiwi, t.t.). Suryadi dkk. (2023, dikutip dalam Pratiwi, t.t.) bahkan menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan membuat sebagian pelajar merasa malu, rendah diri, dan sulit mencintai dirinya sendiri.

Citra Tubuh, Standar Kecantikan, dan Krisis Identitas

Salah satu bentuk perbandingan sosial yang paling menonjol berkaitan dengan citra tubuh. Representasi standar kecantikan yang ditampilkan figur publik dan influencer di media sosial sering dijadikan acuan oleh pengikutnya dalam menilai penampilan fisik ideal (Riswana etal., 2023, dikutip dalam Eprints UPJ, 2025). Ketika standar tersebut sulit dicapai dan tidak mencerminkan keberagaman fisik yang sesungguhnya, remaja berisiko mengalami krisis identitas yang berkembang menjadi body insecurity, yang secara langsung menggerus kepercayaan diri mereka. Temuan ini sejalan dengan kajian Kanda dan Oktaviani (2024) yang menunjukkan hubungan antara paparan media sosial dan rasa percaya diri terkait citra tubuh pada Generasi Z.

Cyberbullying sebagai Faktor Penekan Kepercayaan Diri

Cyberbullying menjadi salah satu dampak negatif media sosial yang paling merusak kepercayaan diri remaja. Data menunjukkan bahwa hampir separuh remaja Indonesia pernah mengalami perundungan daring (UNICEF, 2022, dikutip dalam Malvika, t.t.), dengan konsekuensi psikologis berupa rasa terasing, malu, dan minder yang berkepanjangan. Kajian Assan dkk. (2024) di Kota Kupang turut membuktikan adanya pengaruh signifikan antara pengalaman cyberbullying di media sosial dan tingkat kepercayaan diri remaja akhir, menegaskan bahwa lingkungan digital yang tidak aman dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan psikologis generasi muda.

Sisi Positif Media Sosial: Peluang untuk Diarahkan

Meski membawa risiko, media sosial juga menyimpan potensi positif yang dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan kepercayaan diri, seperti memperluas wawasan, mempermudah komunikasi, membuka akses informasi bermanfaat, dan menjadi ruang aktualisasi diri bagi remaja yang kreatif (Bilaleya et al., 2026; Sahroni et al., 2023). Studi Sahroni dkk. (2023) terhadap remaja usia 15–20 tahun menemukan bahwa dampak media sosial terhadap kepercayaan diri sesungguhnya bersifat dua arah, tergantung bagaimana individu menggunakannya. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan pada keberadaan media sosial itu sendiri, melainkan pada pola penggunaan dan kesiapanpsikologis remaja dalam menghadapinya.

Strategi Menumbuhkan Kepercayaan Diri di Era Digital

Berdasarkan sintesis berbagai kajian di atas, terdapat beberapa strategi yang dapat ditempuh untuk menumbuhkan kembali kepercayaan diri remaja di tengah tekanan media sosial, di antaranya:

1. Penguatan literasi digital, agar remaja mampu menyaring dan memaknai konten secara kritis, memahami bahwa unggahan di media sosial umumnya merupakan versi terkurasidari kehidupan seseorang dan bukan gambaran utuh realitas.

2. Pembatasan waktu penggunaan media sosial secara sadar (digital detox) untuk mengurangi paparan berlebihan terhadap konten pemicu perbandingan sosial, sebagaimana disarankan dalam kajian mengenai dampak psikologis media sosial (Bilaleya et al., 2026).

3. Penguatan dukungan keluarga dan lingkungan terdekat sebagai ruang validasi yang lebih sehat dibandingkan validasi berbasis jumlah suka atau komentar di media sosial.

4. Praktik penerimaan diri (self-acceptance) dan penanaman nilai bahwa keberhasilan hidup bersifat personal, tidak dapat disamakan dengan pencapaian yang ditampilkan orang lain di dunia maya, sejalan dengan pesan yang disampaikan dalam program edukasi remaja RRI Singaraja (2026).

5. Edukasi pencegahan cyberbullying di sekolah dan komunitas, termasuk penyediaan saluran pelaporan dan pendampingan psikologis bagi remaja yang menjadi korban perundungan daring.

Kelima strategi tersebut perlu dijalankan secara kolaboratif oleh keluarga, sekolah, dan pemangku kebijakan digital agar remaja tidak hanya dilindungi dari dampak negatif media sosial, tetapi juga diberdayakan untuk memanfaatkan ruang digital secara sehat bagi perkembangan kepercayaan diri dan identitas dirinya.

KESIMPULAN

Media sosial memiliki peran ganda dalam kehidupan remaja: di satu sisi memperluas akses informasi dan ruang aktualisasi diri, namun di sisi lain berpotensi menurunkan kepercayaan diri melalui mekanisme perbandingan sosial, tekanan standar citra tubuh, fenomena FOMO, dan risiko cyberbullying. Kepercayaan diri remaja yang menurun akibat paparan media sosial bukanlah kondisi permanen, melainkan dapat dipulihkan melalui penguatan literasi digital, dukungan sosial yang sehat, praktik penerimaan diri, serta kebijakan perlindungan dari perundungan daring. Dibutuhkan sinergi antara keluarga, institusi pendidikan, dan penyedia platform digital untuk menciptakan ekosistem media sosial yang lebih mendukung perkembangan psikologis positif remaja Indonesia di masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

Assan, M. C. S., Keraf, M. K. P. A., Uda, P. A. S., & Apriliana, I. P. A. (2024). Pengaruh Cyberbullying di Media Sosial Terhadap Kepercayaan Diri Remaja Akhir di Kota Kupang. Jurnal Bimbingan Konseling Flobamora, 2(2), 65–80. https://doi.org/10.35508/jbkf.v2i1.13689

Bilaleya, I. N. A., Dama, F., Saera, A., Saleh, N., & Wardhani, Y. (2026). Dampak Negatif Media Sosial Terhadap Kondisi Psikologis Remaja. Psychonesia: Journal ofPsychology, 1(2), 45–56.

Eprints Universitas Pembangunan Jaya. (2025). Latar Belakang: Transformasi Digital dan Standar Kecantikan pada Remaja. Diakses dari https://eprints.upj.ac.id/id/eprint/14314/8/BAB%20I.pdf

Good News from Indonesia. (2025, 30 Desember). Scroll Tanpa Henti, Banding Tanpa Sadar: Ketika Media Sosial Memengaruhi Kesehatan Mental Anak Muda. Diakses dari https://www.goodnewsfromindonesia.id

Kanda S., A. S., & Oktaviani, A. (2024). Dampak Media Sosial Terhadap Rasa Percaya Diri Terkait Citra Tubuh Generasi Z di Kota Cimahi. ARKANA: Jurnal Komunikasi dan Media, 3(2), 120–130.

Malvika, A. (t.t.). Latar Belakang: Cyberbullying dan Kepercayaan Diri Remaja. Diakses dari https://eprints.stikesmhk.ac.id/12/3/BAB%20I_Aliffira%20Malvika.pdf

Pratiwi, D. D. (t.t.). Latar Belakang: Media Sosial dan Kepercayaan Diri. Diakses dari https://repository.unjaya.ac.id/4009/3/BAB%20I_2122010034_Dhita%20Dwi%20Pratiwi_S1%20KEPERAWATAN.pdf

RRI Singaraja. (2026, 29 Juli). Media Sosial Picu Tekanan Mental Remaja Masa Kini Indonesia. Diakses dari https://rri.co.id/singaraja/regional/2607382/

Sahroni, I., Daulay, A. A., Fajariah, I. S., & Alvi, I. (2023). Penggunaan Media Sosial Terhadap Kepercayaan Diri Remaja. Suluh: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 8(2), 96–102. https://doi.org/10.33084/suluh.v8i2.4499

TAGGED:media sosialremaja
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Email
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article pembicara Menjadi Pembicara Profesional melalui Persiapan yang Terencana

Latest News

pembicara
Menjadi Pembicara Profesional melalui Persiapan yang Terencana
Akademika
talenta
Turnover Talenta sebagai Tantangan dalam Retensi Talenta
Akademika
Alffy Rev Menenun Kembali Kejayaan Masa Silam Negeri
Generasi
Jecko Siompo
Maestro Tari yang Tak Dikenali di Negeri Sendiri
Generasi
Dr. Nathania Karina bersama TRUST Orchestra
Simfoni yang Menghapus Persepsi, TRUST Orchestra Buka Ruang Anak Muda Berkarya Melalui Orkestra
Generasi
Workshop Mini Zine “It’s Okay Not to Be Okay”, Cara Mahasiswa KKN Internasional IUQI Leuwiliang Ajak Siswi Thailand Belajar Menerima Perasaan
Akademika Generasi Komunitas
top up game
Top Up FF Kilat Tanpa Perlu Login Akun yang Merepotkan
Sekitar Kita

JASA ARTIKEL SEO

Mau website usaha Anda mudah ditemukan dalam mesin pencari Google? Digital Media Labs melayani jasa penulisan artikel SEO.
Hubungi kami di: 081297176001

Jasa Blogroll & Publikasi

  1. Suara Muslim
  2. Seputar Masjid
  3. Seputar Halal
  4. Seputar Kuliner
  5. Seputar Kesehatan
  6. Promo UKM
  7. Wisata Indonesia
  8. Beasiswa Kampus
  9. Indonesia Sentris
  10. Seputar Rumah
  11. Seputar Keamanan
  12. Kota Surabaya
  13. Info Nasional
  14. Info Perkotaan
  15. Berita Santai
  16. Berita Kamera
  17. Suara Pesantren
  18. Info Market

 

Jasa Publikasi di 150+ Website

Baca Artikel Lain

Akademika

Upaya Pencegahan Pinjol dan Judi Online Serta Solusi Bagi Siswa

07/07/2026
Cara Kita Berbicara, Cara Kita Dipahami
Akademika

Cara Kita Berbicara, Cara Kita Dipahami

28/06/2026
Akademika

Mengambil Keputusan Tanpa Bola Kristal: Cara Manajer Memilih di Tengah Ketidakpastian

26/06/2026
seni memilih
Akademika

Teori Keputusan: Seni Memilih di Tengah Ketidakpastian

26/06/2026
Previous Next

Ikon Logo Inilah Kita

Jasa Blogroll & Publikasi Artikel

Promo UKM | Wisata Indonesia | Media Outsourcing | Beasiswa Kampus | Indonesia Sentris | Seputar Rumah | Seputar Keamanan | Kota Surabaya | Info Nasional | Info Perkotaan | Ini Bekasi | Suara Muslim | Seputar Masjid | Seputar Halal | Seputar Kuliner | Suara Pesantren |Kesehatan | Portal Mahasiswa | Kirim Artikel | Info Pasar

Kategori

  • Akademika
  • DialeKita
  • Generasi
  • Kiat Kita
  • Komunitas
  • Nusantara
  • Sekitar Kita

Inilah Kita

  • About
  • Kontak
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media
  • Term & Condition
Seedbacklink

Inilah KitaInilah Kita
©2024 Inilah Kita
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?