Inilah Kita | Ingatkah kamu saat berbicara di depan umum seperti lomba pidato saat kecil atau presentasi kelas? Itu lah yang disebut public speaking. Sejak duduk di bangku sekolah banyak dari kita diperkenalkan pada public speaking lewat struktur yang kaku, mulai dari pembukaan, isi, hingga penutup dinilai satu persatu dan harus berurut. Hal ini menimbulkan kebiasaan kaku dalam public speaking yang akhirnya terus terbawa hingga dunia kuliah dan kerja, di mana presentasi seringkali disiapkan dengan cara yang serupa, yakni dihafal kata per kata sampai-sampai tidak ada ruang untuk berimprovisasi, seolah satu kesalahan kecil akan merusak keseluruhan penyampaian.
Kebiasaan yang cukup buruk ini dilanggengkan dengan sistem pendidikan yang mengajarkan public speaking lewat hafalan dan struktur baku yang kaku. Pembicara yang menghafal naskah kata per kata seringkali menjadi panik dan kehilangan arah saat lupa satu kalimat, padahal sebenarnya pendengar lebih peduli pada pesan apa yang disampaikan.
Metode hafalan, yang juga dikenal sebagai memoriter, sebenarnya membuat pembicara terlihat kaku dan kurang dalam improvisasi, akibatnya pembicara sulit membangun koneksi interaktif dengan pendengar karena sifatnya yang satu arah.
Temuan lain juga menunjukkan hasil yang serupa, di mana pembicara yang menghafal naskahnya kata demi kata cenderung terdengar robotik, kehilangan spontanitas, dan mudah panik ketika mereka melupakan satu bagian.
Hal ini sebenarnya bukan kebetulan, faktanya ini sudah tertanam sejak lama di mana rubrik penilaian untuk kompetisi-kompetisi public speaking tingkat sekolah, misalnya, menempatkan penekanan yang baku pada struktur penyampaian dimulai dari pengantar, isi, lalu penutup. Bahkan ketika ada satu bagian dari struktur tersebut hilang atau tampak terlalu singkat, skor secara otomatis menurun, terlepas dari seberapa kuat pesan yang disampaikan.
Bukan berarti penilaian yang terstruktur itu keliru, Kompetisi ataupun forum public speaking tetap memerlukan kriteria yang jelas dan objektif, supaya penilaian tidak sekedar mengandalkan selera dan subjektif. Seharusnya, yang dikhawatirkan adalah apa yang diukur bukan perlu atau tidaknya kriteria itu ada. Selama ini, kriteria yang dipakai lebih umum terkait seberapa taat pada aturan baku bukan seberapa jelas pesan disampaikan dengan baik. Dua hal ini memang terasa berkaitan, padahal keduanya tidak selalu beriringan.
Ada beberapa hal yang bisa mulai dilatih dan digunakan saat public speaking supaya nantinya tidak terjebak pada hafalan naskah.
- Kenali dulu siapa pendengarmu, karena cara bicara kepada teman sebaya tentu berbeda dengan seseorang yang lebih tua atau yang lebih muda. Dengan mengenali pendengar, nantinya mereka akan merasa diperhatikan dan diikutsertakan dalam pembicaraan tersebut.
- Kuasai materi dan susun poin-poin pentingnya saja, cukup untuk menjadi pegangan arah bukan naskah yang harus diucapkan persis sama. Sebab, pembicara yang terdengar mahir public speaking dan memiliki spontanitas sekalipun sebenarnya tetap punya alur pikir yang jelas di kepalanya, hanya saja yang mereka lakukan bukan menghafal kata per kata, melainkan menguasai poin-poinnya.
- Gunakan alat bantu seperti catatan kecil untuk membantu menjaga fokus tanpa harus menghafal semuanya di kepala.
- Ketika gugup tidak perlu memaksakan diri untuk menatap langsung pada mata pendengar jika itu akan membuat fokus buyar, pembicara dapat melihat ke arah kening pendengar untuk menjaga kontak yang terasa alami.
- Kurangi kebiasaan mengisi jeda dengan “eee…”, karena sebenarnya diam sejenak justru terdengar lebih meyakinkan dibanding dengan gumaman yang terburu-buru.
- Sering-sering lah latihan, bukan latihan menghafal kata perkata, namun latihan menyampaikan pesan secara lugas dan nyaman.
Dosen Pengampu: Melda Wiguna, S.E., M.M.
