Inilah Kita | Public speaking bukan sekadar soal berani tampil. Setiap kalimat yang keluar dari mulut kita akan tertanam di benak pendengar dan tidak bisa ditarik kembali. Karena itu, memahami etika berbicara di depan umum adalah bekal pertama yang perlu dimiliki, bahkan sebelum belajar teknik apa pun.
Etika
Kata “etika” berasal dari bahasa Yunani, ethos, yang berarti watak atau kebiasaan, dan ethikos, yang berarti perbuatan yang baik. Istilah moral berasal dari kata Latin mores, yaitu adat dan kebiasaan. Dalam bahasa Arab dikenal sebagai akhlak, sedangkan dalam bahasa Indonesia disebut tata susila. Semua akar kata ini bermuara pada hal yang sama: etika adalah soal karakter, bukan sekadar aturan.
Persoalannya, tafsir tentang apa yang etis bisa berbeda antara satu orang dengan orang lain, bergantung pada agama, budaya, usia, hingga pekerjaan. Kondisi ini disebut dilema etika. Untuk membantu membayangkannya, Elspeth Tilley, pakar etika komunikasi publik dari Massey University, menggambarkan Piramida Etika yang berdiri di atas tiga hal: niat (intent), sarana (means), dan tujuan (ends).
Prinsip Pembicara yang Etis
Menjadi pembicara yang baik bukan hanya tentang kemampuan menyampaikan materi, tetapi juga tentang bagaimana menjaga sikap dan tanggung jawab selama berbicara. Etika diperlukan agar informasi yang disampaikan dapat dipercaya, menghargai audiens, dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan antara lain:
- Memiliki tujuan yang jelas. Tentukan tujuan sebelum berbicara agar materi yang disampaikan tetap terarah dan memberikan manfaat bagi audiens.
- Melakukan persiapan dengan baik. Persiapkan materi, data, penampilan, kondisi mental, serta lakukan latihan agar penyampaian lebih percaya diri dan terstruktur.
- Menyampaikan informasi secara jujur. Gunakan informasi yang benar dan hindari melebih-lebihkan fakta karena kejujuran menjadi dasar terbentuknya kepercayaan audiens.
- Menggunakan bahasa yang santun. Pilih kata-kata yang sopan, jelas, dan sesuai dengan kondisi audiens karena ucapan yang disampaikan dapat memengaruhi perasaan dan pandangan orang lain.
- Menghargai keberagaman audiens. Hindari ucapan yang mengandung unsur penghinaan, diskriminasi, atau SARA karena setiap audiens memiliki latar belakang dan pandangan yang berbeda.
- Menghargai sumber informasi. Jika menggunakan pendapat, data, atau karya orang lain, cantumkan sumbernya untuk menghindari plagiarisme sekaligus menunjukkan sikap profesional dan menjaga kredibilitas pembicara.
Teknik Public Speaking yang Efektif
Public speaking memiliki teknik yang bisa dilatih.
- Intonasi, misalnya, memengaruhi makna dan suasana nada tinggi memberi kesan tegas dan bersemangat, sedangkan nada rendah terasa tenang dan berwibawa.
- Vokal dan volume harus jelas serta disesuaikan dengan pesan, tidak terlalu keras dan tidak terlalu kecil.
- Pilihan diksi perlu disesuaikan dengan audiens, dan kata ambigu sebaiknya dihindari agar tidak menimbulkan salah paham.
- Gestur dan mimik wajah memperkuat pesan, selama dilakukan secara sopan dan tidak berlebihan. Senyum yang ramah sering kali lebih meyakinkan daripada seribu kata.
Bahasa Inklusif dan Menjauhi Ujaran Kebencian
Pembicara yang baik bertanggung jawab atas dampak sosial dari kata-katanya. Salah satu caranya adalah menggunakan bahasa inklusif, yakni menempatkan diri dalam sudut pandang orang lain. Contohnya sederhana: ganti “kalian harus menjaga kebersihan” dengan “marilah kita menjaga kebersihan”. Pesannya sama, tetapi terasa merangkul, bukan menggurui.
Pembicara juga perlu mempromosikan keberagaman, misalnya dengan menyeimbangkan contoh laki-laki dan perempuan, serta memilih bahasa dan alat bantu visual yang bisa diterima berbagai latar belakang. Di sisi lain, ujaran kebencian harus dijauhi sepenuhnya. The NCA Credo of Ethical Communication mengutuk komunikasi yang merendahkan manusia lewat intimidasi, paksaan, intoleransi, dan kebencian. Dalam praktiknya, ujaran kebencian mengasingkan audiens dan menghancurkan kredibilitas pembicara, bahkan bisa berimbas pada pekerjaan dan reputasi.
Etika dalam Mendengar
Etika tidak hanya dituntut dari pembicara. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang bermanfaat bagi kedua belah pihak. Pendengar yang etis menyimak dengan seksama dan merespons dengan baik. Ia tidak harus selalu setuju, tetapi tanggapannya tetap berpegang pada norma dan etika. Pendengar juga tidak semestinya menilai pembicara dari nama, ras, gaya hidup, penampilan, atau reputasinya. Menurut NCA Credo, pahami dan hargai dulu pembicara sebelum mengevaluasi dan menanggapinya.
Etika menjadi Fondasi Komunikasi
Pada akhirnya, teknik secanggih apa pun akan runtuh jika tidak ditopang etika. Niat yang baik, kejujuran, bahasa yang santun, keberanian menyebut sumber, serta sikap menghargai perbedaan adalah fondasi yang membuat pembicara dipercaya, sementara sikap saling menghargai dari pendengar membuat komunikasi benar-benar hidup. Maka sebelum menyusun slide atau melatih intonasi, tanyakan satu hal pada diri sendiri: untuk apa saya berbicara, dan siapa yang akan terbantu oleh kata-kata saya? Jawaban jujur atas pertanyaan itu adalah pidato etis yang paling awal.
