By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inilah KitaInilah KitaInilah Kita
  • Home
  • Sekitar Kita
  • DialeKita
  • Nusantara
  • Akademika
  • Komunitas
  • Generasi
  • Kiat Kita
Reading: Seni Berpidato: Menyampaikan Pesan agar Didengar dan Diingat
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Inilah KitaInilah Kita
Font ResizerAa
  • Home
  • Sekitar Kita
  • DialeKita
  • Nusantara
  • Akademika
  • Komunitas
  • Generasi
  • Kiat Kita
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inilah Kita
Inilah Kita > Blog > Akademika > Seni Berpidato: Menyampaikan Pesan agar Didengar dan Diingat
Akademika

Seni Berpidato: Menyampaikan Pesan agar Didengar dan Diingat

Bong Felicia Eirene, Risma Dewanti (Mahasiswa Universitas Pamulang)

Redaksi Kita
Redaksi Kita Published 04/10/2026
Share
seni pidato
SHARE

Inilah Kita | Komunikasi lisan merupakan kemampuan dasar yang dibutuhkan di hampir semua bidang kehidupan, mulai dari ruang kelas, organisasi, dunia kerja, hingga kehidupan bermasyarakat. Salah satu bentuk komunikasi lisan yang paling terstruktur adalah pidato, yaitu penyampaian gagasan secara lisan di hadapan pendengar dengan tujuan tertentu, seperti memberi informasi, mengajak, atau memeriahkan suatu acara. Sejak masa retorika klasik, pidato dipahami bukan sekadar urusan isi, tetapi juga soal bagaimana pembicara membangun kredibilitas, menyentuh perasaan, dan menyusun alasan yang masuk akal bagi pendengarnya.

Contents
MetodeHasil dan Pembahasan1.  Konsep, Jenis, dan Struktur Pidato2.  Unsur Kebahasaan dan Nonkebahasaan3.  Kepercayaan Diri dan Kecemasan Berbicara4.  Strategi dan Model Pembelajaran5.  Implikasi PraktisKesimpulanDaftar Pustaka

Meskipun penting, keterampilan berpidato belum dikuasai dengan baik oleh banyak pelajar dan mahasiswa. Penelitian pada kelas bahasa Indonesia melaporkan bahwa kemampuan berpidato siswa masih tergolong rendah dan sebagian siswa merasa gugup serta salah tingkah ketika berbicara di depan khalayak [7]. Pada sisi lain, pembelajaran keterampilan berpidato disebut masih sering dilakukan secara konvensional sehingga perlu dikembangkan model yang lebih inovatif dan berbasis pengalaman [3].

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini membahas tiga pertanyaan: (1) bagaimana konsep dan struktur pidato yang efektif, (2) unsur apa saja yang memengaruhi kualitas penyampaian pidato, dan (3) strategi apa yang dilaporkan dapat mengembangkan keterampilan berpidato. Tujuannya adalah merangkum temuan-temuan tersebut sebagai bahan rujukan bagi pembelajar, pendidik, maupun siapa pun yang ingin berlatih berpidato.

Metode

Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (studi literatur) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data berupa artikel jurnal berbahasa Indonesia yang ditelusuri secara daring menggunakan kata kunci “keterampilan berpidato” dan “public speaking”. Delapan artikel dipilih karena topiknya langsung berkaitan dengan pidato atau berbicara di depan umum. Setiap artikel dibaca, dikelompokkan berdasarkan fokus bahasannya (unsur penyampaian, kepercayaan diri, dan model pembelajaran), kemudian dirangkum dan dibandingkan. Keterbatasan kajian ini ialah sebagian temuan dirangkum dari abstrak dan bagian awal artikel, sehingga pembaca disarankan merujuk ke naskah lengkapnya.

Hasil dan Pembahasan

1.  Konsep, Jenis, dan Struktur Pidato

Pidato dapat dikelompokkan menurut tujuannya. Pidato informatif bertujuan menjelaskan suatu topik, pidato persuasif bertujuan memengaruhi sikap atau tindakan pendengar, pidato seremonial dibawakan pada acara khusus seperti sambutan dan wisuda, sedangkan pidato impromptu disampaikan spontan tanpa persiapan panjang. Pidato persuasif mendapat perhatian khusus dalam pembelajaran karena menuntut pembicara memadukan argumen, pilihan kata, dan cara penyampaian sekaligus, seperti tampak pada penelitian tentang model multisensori untuk keterampilan berpidato persuasif mahasiswa [8].

Secara umum, pidato tersusun atas tiga bagian. Pembukaan berfungsi menyapa dan menarik perhatian, misalnya lewat pertanyaan, cerita singkat, atau fakta mengejutkan. Isi memuat tiga sampai empat gagasan utama yang disusun runtut dan didukung contoh atau data. Penutup merangkum pesan inti, mengajak pendengar bertindak, dan mengucapkan terima kasih. Struktur yang jelas membantu pendengar mengikuti alur, terutama karena mereka tidak dapat “membaca ulang” apa yang sudah disampaikan.

2.  Unsur Kebahasaan dan Nonkebahasaan

Kualitas pidato ditentukan oleh unsur kebahasaan, seperti pilihan kata, kalimat, dan ketepatan penyampaian pesan, serta unsur nonkebahasaan, seperti suara, ekspresi, dan gerak tubuh. Pelatihan public speaking yang dilaporkan dalam salah satu artikel berfokus pada pengelolaan vokal dan gestur, dan menunjukkan bahwa peserta menjadi lebih percaya diri serta lebih paham teknik berbicara di depan umum setelah pelatihan [1]. Temuan ini sejalan dengan anjuran praktis untuk memvariasikan volume, intonasi, dan jeda, serta menjaga kontak mata agar penyampaian tidak monoton dan tidak bergantung pada naskah.

Selain itu, kenali pendengar sebelum menyusun pidato. Bahasa, contoh, dan tingkat kerumitan materi perlu disesuaikan dengan latar belakang pendengar agar pesan benar-benar diterima. Pembicara juga dianjurkan memakai kalimat pendek dan jelas, karena kejelasan lebih menentukan keberhasilan pidato daripada kerumitan bahasa.

3.  Kepercayaan Diri dan Kecemasan Berbicara

Rasa gugup merupakan hambatan yang paling sering dialami pembicara pemula. Siswa yang belum terbiasa cenderung gugup dan canggung saat berpidato di depan khalayak [7]. Di sisi lain, kegiatan public speaking dilaporkan dapat memperkuat karakter, termasuk kepercayaan diri, empati, dan keterampilan sosial [4]. Hal ini menunjukkan bahwa latihan berpidato tidak hanya melatih kemampuan berbahasa, tetapi juga membentuk sikap yang berguna dalam interaksi sosial. Kegugupan tidak perlu dihilangkan sepenuhnya; yang terpenting adalah mengelolanya, misalnya dengan menarik napas dalam sebelum mulai dan berlatih berulang sehingga rasa gugup berubah menjadi energi.

4.  Strategi dan Model Pembelajaran

Beberapa penelitian menawarkan pendekatan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpidato. Pertama, pembelajaran berbasis proyek yang memanfaatkan video dipakai untuk melatih keterampilan berpidato mahasiswa [2]. Perancangan model keterampilan berpidato inovatif yang memadukan pendekatan komunikatif, pembelajaran berbasis proyek, dan media digital interaktif juga dikembangkan melalui penelitian dan pengembangan. Berdasarkan wawancara dengan 609 siswa kelas XI di beberapa SMA di Jakarta, model tersebut dinilai sangat dibutuhkan dan layak diterapkan [3].

Kedua, model simulasi diterapkan pada mahasiswa program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia melalui penelitian tindakan kelas, dan keterampilan pidato mahasiswa dilaporkan meningkat setelah penerapannya [6]. Ketiga, teknik modeling, yaitu memberikan contoh yang dapat diamati lalu ditiru siswa, digunakan untuk mengatasi rendahnya kemampuan berpidato siswa SMP [7]. Keempat, model multisensori yang mengoptimalkan beberapa indera diterapkan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menyampaikan pidato persuasif [8].

Selain model di dalam kelas, kegiatan di luar kelas juga berperan. Penelitian di sebuah madrasah aliyah mengkaji hubungan antara kegiatan muhadharah, yaitu latihan berpidato rutin, dengan kemampuan public speaking peserta didik [5]. Dengan demikian, kesempatan berlatih yang berulang dan terjadwal menjadi bagian penting dari pengembangan keterampilan berpidato.

5.  Implikasi Praktis

Dari kajian di atas, ada beberapa implikasi bagi pembelajar dan pendidik. Pembelajar perlu menyusun pidato dengan struktur yang jelas, berlatih di depan cermin atau merekam suara sendiri, serta memperhatikan vokal dan gestur. Pendidik perlu menyediakan contoh (modeling), kesempatan praktik yang sering, dan media yang membuat siswa dapat meninjau penampilannya sendiri, misalnya rekaman video. Sekolah dan lembaga juga dapat memfasilitasi kegiatan rutin seperti muhadharah agar berpidato menjadi kebiasaan, bukan beban.

Kesimpulan

Pidato adalah keterampilan yang dapat dipelajari, bukan bakat bawaan. Berdasarkan kajian pustaka, pidato yang efektif bertumpu pada pemahaman terhadap pendengar, struktur yang jelas, pengelolaan suara dan gestur, serta latihan yang konsisten. Berbagai model pembelajaran, yaitu berbasis proyek dan video, simulasi, modeling, serta multisensori, telah diterapkan untuk meningkatkan keterampilan ini, dan kegiatan public speaking dilaporkan turut menumbuhkan kepercayaan diri dan keterampilan sosial. Penelitian selanjutnya dapat membandingkan efektivitas model-model tersebut secara langsung atau meneliti pidato pada konteks nonakademik, seperti organisasi dan dunia kerja.

Daftar Pustaka

  • Jaini, & Sa’i, M. (2025). Public speaking: Teknik berbicara di depan umum dalam mengelola vokal dan gesture yang SANISKALA: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(1), 25–34. https://ejournal.unma.ac.id/index.php/saniskala
  • Nuraeni, I., Harisah, S., Karim, A., Taha, N., & Sahrin, A. (2024). Keterampilan berpidato mahasiswa dalam bentuk video melalui pembelajaran berbasis proyek: Pendekatan reflektif. Ranah: Jurnal Kajian Bahasa, 13(2), 412–426. https://doi.org/10.26499/rnh.v13i2.7800
  • Siregar, , Herlina, H., & Utami, S. R. (2025). Desain model keterampilan berpidato inovatif. Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, 15(2), 340–351. https://doi.org/10.23969/literasi.v15i2.24122
  • Ayuningtyas, , Intyaswati, D., Tayibnapis, R. G., & Saputra, W. T. (2025). Penguatan karakter melalui kegiatan keterampilan public speaking. Jurnal SOLMA, 14(1), 972–982. https://doi.org/10.22236/solma.v14i1.16853
  • Mastura, N., Risnawati, R., Rizqa, M., & Sukmawati, S. (2025). Relevansi kegiatan muhadharah dengan kemampuan public speaking peserta didik di MAN 1 ENGGANG: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 6(1), 525–535. https://doi.org/10.37304/enggang.v6i1.24869
  • Martha, U. (2015). Peningkatan keterampilan pidato dengan model simulasi mahasiswa semester gasal PBSI Unsoed. Bahastra, 33(2), 31–42. https://doi.org/10.26555/bahastra.v33i2.2716
  • Tiang, F. P. R. (2020). Penerapan teknik modeling untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Indonesia dalam menyampaikan pidato persuasif di kelas IXA SMP Negeri 1 Mego. Journal on Teacher Education, 2(1), 167–176. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jote/article/viewFile/1146/pdf
  • (2019). Penerapan model multisensori untuk meningkatkan keterampilan berbicara mahasiswa dalam menyampaikan pidato persuasif. Jurnal Artikula, 2(2), 26–32.https://doi.org/10.30653/006.201922.24
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Email
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article media sosial Risiko Penggunaan Media Sosial bagi Generasi Muda di Era Digital

Latest News

media sosial
Risiko Penggunaan Media Sosial bagi Generasi Muda di Era Digital
Akademika
kesenjangan
Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Penyebab, Dampak, & Solusi
Akademika
HR
Peran Human Resource Business Partner (HRBP) dalam Mengintegrasikan Strategi SDM dan Bisnis
Akademika
media sosial remaja
Menumbuhkan Kepercayaan Diri Remaja di Tengah Arus Perbandingan Sosial di Medsos
Akademika
pembicara
Menjadi Pembicara Profesional melalui Persiapan yang Terencana
Akademika
talenta
Turnover Talenta sebagai Tantangan dalam Retensi Talenta
Akademika
Alffy Rev Menenun Kembali Kejayaan Masa Silam Negeri
Generasi

JASA ARTIKEL SEO

Mau website usaha Anda mudah ditemukan dalam mesin pencari Google? Digital Media Labs melayani jasa penulisan artikel SEO.
Hubungi kami di: 081297176001

Jasa Blogroll & Publikasi

  1. Suara Muslim
  2. Seputar Masjid
  3. Seputar Halal
  4. Seputar Kuliner
  5. Seputar Kesehatan
  6. Promo UKM
  7. Wisata Indonesia
  8. Beasiswa Kampus
  9. Indonesia Sentris
  10. Seputar Rumah
  11. Seputar Keamanan
  12. Kota Surabaya
  13. Info Nasional
  14. Info Perkotaan
  15. Berita Santai
  16. Berita Kamera
  17. Suara Pesantren
  18. Info Market

 

Jasa Publikasi di 150+ Website

Baca Artikel Lain

AkademikaGenerasiKomunitas

Workshop Mini Zine “It’s Okay Not to Be Okay”, Cara Mahasiswa KKN Internasional IUQI Leuwiliang Ajak Siswi Thailand Belajar Menerima Perasaan

12/08/2026
Akademika

Upaya Pencegahan Pinjol dan Judi Online Serta Solusi Bagi Siswa

07/07/2026
Cara Kita Berbicara, Cara Kita Dipahami
Akademika

Cara Kita Berbicara, Cara Kita Dipahami

28/06/2026
Akademika

Mengambil Keputusan Tanpa Bola Kristal: Cara Manajer Memilih di Tengah Ketidakpastian

26/06/2026
Previous Next

Ikon Logo Inilah Kita

Jasa Blogroll & Publikasi Artikel

Promo UKM | Wisata Indonesia | Media Outsourcing | Beasiswa Kampus | Indonesia Sentris | Seputar Rumah | Seputar Keamanan | Kota Surabaya | Info Nasional | Info Perkotaan | Ini Bekasi | Suara Muslim | Seputar Masjid | Seputar Halal | Seputar Kuliner | Suara Pesantren |Kesehatan | Portal Mahasiswa | Kirim Artikel | Info Pasar

Kategori

  • Akademika
  • DialeKita
  • Generasi
  • Kiat Kita
  • Komunitas
  • Nusantara
  • Sekitar Kita

Inilah Kita

  • About
  • Kontak
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media
  • Term & Condition
Seedbacklink

Inilah KitaInilah Kita
©2024 Inilah Kita
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?