Inilah Kita | “Terkadang, kita harus berani meninggalkan sesuatu yang nyaman untuk menemukan kesempatan yang lebih besar.”
Ada keputusan dalam hidup yang tidak pernah mudah untuk diambil. Kita sering kali berada di antara dua pilihan: tetap bertahan pada sesuatu yang sudah nyaman atau berani melangkah menuju sesuatu yang belum pasti.
Bagi saya, keputusan untuk berhenti mengajar sebagai Guru PAUD di kampung halaman, meninggalkan keluarga, saya juga menyadari bahwa jika terus bertahan hanya karena takut mengambil risiko, mungkin saya tidak akan pernah mengetahui sejauh mana kemudian merantau ke Jakarta dan kembali kuliah adalah salah satu keputusan terbesar yang pernah saya ambil.
Saya tahu keputusan tersebut memiliki risiko. Namun, saya juga menyadari bahwa jika terus bertahan hanya karena takut mengambil risiko, mungkin saya tidak akan pernah mengetahui sejauh mana saya bisa berkembang.
1. Menjadi Guru dan Belajar dari Anak-Anak
Sebelum memutuskan untuk merantau, saya bekerja sebagai seorang Guru PAUD di kampung halaman saya di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menjadi guru memberikan saya pengalaman yang sangat luar biasa. Setiap hari saya harus berhadapan dengan anak-anak yang hadir dengan berbagai karakter. Ada yang penurut, ada yang lebih banyak diam dan mendengarkan, tetapi ada juga beberapa anak yang cukup sulit untuk dihadapi.
Sebagai seorang guru, saya harus siap menghadapi berbagai karakter tersebut dengan penuh kesabaran. Hampir setiap hari selalu ada cerita dan drama yang berbeda.
Pada awalnya, saya merasa cukup kesulitan untuk berinteraksi dengan anak-anak tersebut. Saya membutuhkan waktu hampir dua bulan untuk benar-benar memahami karakter mereka.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa setiap anak memiliki karakter dan cara belajar yang berbeda. Dari sana, saya tidak hanya belajar bagaimana menjadi seorang guru, tetapi juga belajar tentang kesabaran, tanggung jawab dan bagaimana memahami orang lain.
Menjadi guru membuat saya nyaman. Saya memiliki pekerjaan, memiliki anak-anak didik yang sudah mulai dekat dengan saya, serta berada di lingkungan yang sudah saya kenal.
Namun, ternyata kenyamanan tidak selalu berarti kita harus berhenti di sana.
2. Ketika Keinginan untuk Berkembang Muncul.
Di tengah kenyamanan tersebut, muncul sesuatu yang mulai mengusik pikiran saya.
Saya mulai memiliki keinginan untuk berkembang dan mencoba sesuatu yang baru. Saya mulai bertanya kepada diri sendiri, apakah saya akan terus berada di tempat yang sama hanya karena merasa nyaman?
Saya kemudian menyadari bahwa zona nyaman memang memberikan rasa aman, tetapi terlalu lama berada di dalamnya juga bisa membuat seseorang berhenti berkembang.
Saat itulah saya dihadapkan pada sebuah pilihan: tetap berada di zona nyaman dan terus menemani anak-anak, atau berani mengambil risiko demi masa depan yang saya impikan.
Tidak ada pilihan yang benar-benar mudah.
Jika saya bertahan, saya harus mengubur keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru. Jika saya pergi, saya harus siap kehilangan kenyamanan yang selama ini saya miliki.
Pada akhirnya, saya memilih untuk mengambil risiko.
3. Berani Meninggalkan yang Sudah Nyaman.
Saya memutuskan untuk berhenti mengajar dan merantau ke Jakarta.
Keputusan tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah. Saya harus meninggalkan anak-anak didik, teman-teman, lingkungan yang sudah saya kenal dan yang paling berat adalah keluarga.
Tidak semua orang menerima keputusan saya.
Ada yang merasa kecewa, bahkan marah, karena sejak awal merekalah yang mendukung saya hingga bisa berada di posisi tersebut. Mereka memberikan kepercayaan kepada saya, tetapi pada akhirnya saya memilih untuk meninggalkan pekerjaan itu.
Saya memahami jika ada yang merasa kecewa.
Namun, di sisi lain, ada juga orang-orang yang mendukung keputusan saya. Mereka percaya bahwa pilihan yang saya ambil adalah bagian dari usaha untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa tidak semua keputusan dalam hidup akan mendapatkan persetujuan dari semua orang.
Terkadang, kita harus berani mengambil keputusan berdasarkan apa yang kita yakini, meskipun keputusan tersebut tidak selalu dapat dipahami oleh orang lain.
4. Merantau ke Jakarta dan Memulai Kembali.
Meninggalkan kampung halaman dan berpindah ke Jakarta berarti saya harus memulai banyak hal dari awal.
Saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, menghadapi tuntutan hidup yang lebih besar, sekaligus belajar menjadi lebih mandiri.
Jakarta bukan tempat yang sederhana bagi saya. Semuanya terasa baru. Lingkungan, aktivitas, tanggung jawab, hingga cara saya menjalani kehidupan sehari-hari mengalami perubahan.
Namun, saya percaya bahwa merantau bukan hanya tentang meninggalkan tempat asal.
Merantau juga tentang belajar mengenal diri sendiri.
Ketika jauh dari keluarga dan lingkungan yang selama ini memberikan rasa nyaman, saya mulai belajar bahwa banyak hal dalam hidup harus diperjuangkan sendiri.
Di Jakarta, saya kemudian memutuskan untuk kembali kuliah.
Bagi saya, kembali menjadi mahasiswa setelah sebelumnya bekerja merupakan sebuah langkah besar.
5. Bekerja Sambil Kuliah.
Kembali kuliah tidak berarti saya hanya fokus pada pendidikan. Saya juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Di sinilah tantangan baru dimulai: bekerja sambil kuliah.
Menjalani dua peran sekaligus bukan sesuatu yang mudah. Sebagai pekerja, saya memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan. Sebagai mahasiswa, saya juga memiliki tanggung jawab akademik.
Waktu harus dibagi dengan baik.
Setelah bekerja, saya masih harus memikirkan tugas, perkuliahan, ujian, presentasi dan berbagai kewajiban lainnya.
Ada waktu ketika tubuh terasa lelah, tetapi tugas tetap harus dikerjakan.
Ada saat bukan hanya tentang mencari penghasilan dan mendapatkan pendidikan. Lebih dari itu, saya sedang belajar tentang tanggung jawab, disiplin serta bagaimana ketika badan terasa lelah dan ingin beristirahat, tetapi kewajiban sebagai mahasiswa tetap menunggu.
Di tengah kondisi tersebut, saya mulai memahami bahwa bekerja sambil kuliah bukan hanya tentang mencari penghasilan dan mendapatkan pendidikan. Lebih dari itu, saya sedang belajar tentang tanggung jawab, disiplin dan bagaimana mengatur kehidupan.
6. Menghadapi Lelah, Keraguan dan Risiko.
Tidak dapat saya pungkiri, ada masa ketika saya merasa lelah.
Ada juga saat ketika saya bertanya kepada diri sendiri: Apakah keputusan yang saya ambil sudah benar?
Pertanyaan tersebut terkadang muncul ketika keadaan terasa berat.
Namun, dari situlah saya belajar bahwa setiap pilihan memiliki risiko dan konsekuensinya masing-masing.
Jika saya memilih untuk tetap menjadi guru di kampung halaman, mungkin hidup saya akan terasa lebih nyaman.
Tetapi jika saya tidak pernah pergi, saya mungkin tidak akan pernah mengetahui bagaimana rasanya hidup mandiri di kota besar, bekerja sambil kuliah dan menghadapi berbagai tantangan yang akhirnya membuat saya berkembang.
Saya kemudian memahami bahwa risiko tidak selalu berarti mengambil keputusan tanpa perhitungan.
Risiko adalah keberanian untuk mengambil kesempatan setelah menyadari bahwa ada tantangan yang harus dihadapi.
Saya tahu bahwa merantau, bekerja dan kuliah secara bersamaan bukanlah hal yang mudah. Namun, saya juga tahu bahwa jika saya tidak mencoba, saya mungkin akan terus bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya bisa saya capai.
7. Belajar dari Setiap Keputusan
Pengalaman ini juga mengubah cara saya memandang kegagalan.
Saya menyadari bahwa kegagalan bukan selalu berarti keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang salah.
Terkadang, kegagalan hanya menjadi bagian dari proses untuk membuat kita lebih kuat, lebih dewasa dan lebih memahami tujuan hidup.
Saya juga belajar bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas.
Bekerja, hidup mandiri, menghadapi tekanan, mengatur waktu, beradaptasi dengan lingkungan baru dan bertanggung jawab terhadap keputusan sendiri juga merupakan bagian dari proses pendidikan.
Berhenti mengajar bukan berarti saya berhenti belajar.
Justru setelah meninggalkan pekerjaan tersebut, saya menemukan bentuk pembelajaran lain yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya.
8. Tidak Semua Jalan Harus Sama
Saya percaya bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing.
Ada orang yang memilih langsung bekerja setelah menyelesaikan pendidikan. Ada yang memilih melanjutkan kuliah. Ada pula yang harus bekerja terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali menempuh pendidikan.
Tidak ada perjalanan yang benar-benar sama.
Saya pernah merasa takut karena jalan yang saya pilih berbeda. Saya takut mengecewakan orang lain. Saya takut gagal. Saya takut jauh dari orang tua. Saya juga takut menghadapi kehidupan baru di Jakarta.
Namun, saya belajar bahwa rasa takut bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Justru, keberanian sering kali lahir ketika kita tetap berjalan meskipun masih merasa takut.
9. Jangan Takut Memulai Kembali
Pada akhirnya, saya percaya bahwa hidup tidak selalu harus dijalani melalui jalan yang paling aman.
Ada kalanya kita perlu berani meninggalkan sesuatu yang sudah nyaman untuk mendapatkan kesempatan yang lebih besar.
Risiko memang menakutkan. Namun, terkadang risiko yang kita ambil hari ini adalah harga yang harus dibayar untuk kehidupan yang ingin kita capai di masa depan.
Bagi saya, berhenti mengajar bukan berarti berhenti belajar. Merantau bukan berarti kehilangan arah. Dan kembali kuliah bukan berarti memulai dari nol.
Semua itu adalah bagian dari perjalanan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Saya mungkin belum tahu ke mana seluruh perjalanan ini akan membawa saya. Tetapi satu hal yang saya yakini: selama saya berani melangkah, setiap risiko akan selalu memberikan sesuatu untuk dipelajari.
Untuk siapa pun yang saat ini sedang berada di persimpangan dan takut mengambil keputusan, jangan biarkan ketakutan menentukan masa depan Anda.
Pertimbangkan risikonya, persiapkan diri sebaik mungkin, lalu beranilah melangkah.
Tidak masalah jika jalan yang Anda pilih berbeda dari orang lain. Tidak masalah jika Anda harus memulai kembali. Tidak masalah jika perjalanan Anda terasa lebih lambat dibandingkan orang lain.
Yang terpenting adalah Anda tidak berhenti berusaha menjadi versi terbaik dari diri Anda.
Karena terkadang, kita harus berani meninggalkan zona nyaman untuk menemukan kesempatan yang lebih besar.
Jangan takut memulai kembali. Jangan takut berjalan lebih lambat. Dan jangan takut mengambil risiko selama Anda tahu apa yang sedang Anda perjuangkan. Sebab, masa depan tidak selalu ditemukan oleh mereka yang paling siap, tetapi sering kali ditemukan oleh mereka yang berani melangkah.[]
