Oleh: Keisya Ramadhani*
Indah, itulah yang kurasakan saat alunan biola, harpa, dan instrumen lain berpadu. Keindahan yang menjelma dalam ruang dan dimensi imajinatif, seperti membawaku larut tanpa batas. Lalu, perlahan, nada-nada itu memainkan soundtrack film-film Disney. Seolah aku dibawa ke sebuah padang sabana yang menghampar rumput hijau yang luas. Tanpa sadar, air mataku meleleh.
Itu adalah pengalaman pertamaku menyaksikan langsung penampilan musik orkestra. Bagiku, ini menjadi pengalaman tak terlupakan. Mendapatkan undangan khusus dari Dr. Nathania Karina, pendiri Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST Orchestra) untuk hadir menyaksikan latihan mereka jelang konser pertunjukan mereka di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan.
Dibalik sosoknya yang ramah dan sederhana, siapa sangka Dr. Nathania Karina menjadi conductor wanita pertama yang memimpin orkestra ternama Indonesia, Gita Bahana Nusantara di upacara peringatan kemerdekaan Indonesia pada tahun 2022.
Di dunia musik orkestra, perempuan berusia 41 tahun itu memiliki segudang prestasi. Sebagai conductor, Dr. Nathania Karina pernah meraih penghargaan “Outstanding Conductor Award” di tahun 2021 dan kembali mendapatkan penghargaan yang sama di tahun 2025, dalam ajang bergengsi dunia The 11th World Orchestra Festival 2025 di Wina, Austria.
Dan yang lebih membanggakan lagi, TRUST Orchestra yang dipimpinnya meraih penghargaan “Golden Award” dan serta “Johann Strauss Award” dalam ajang internasional bergengsi tersebut.
Dalam festival yang diikuti oleh 21 Group dari 9 negara itu, TRUST Orchestra membuka penampilan dengan lagu Janger dari Bali dengan menampilkan kejutan berupa tarian Kecak yang diiringi acapela. Dilanjutkan dengan membawakan lagu Bungong Jeumpa dari Aceh dengan aransemen penuh dinamika, tempo, dan karakter kuat dari para personilnya, yang seluruhnya anak muda.
Atas prestasinya itu, TRUST Orchestra diberi kesepatan untuk tampil dalam perayaan 200 tahun kelahiran komponis ternama, Johann Strauss II. Lagi-lagi TRUST Orchestra dianugerahi penghargaan “Johann Strauss Award”, yang menambah daftar panjang prestasi membanggakan yang diraih TRUST Orchestra.
“Mimpi TRUST Orchestra untuk tampil di panggung musik terbaik dunia akhirnya terwujud. Rasa bangga kami bertambah saat menerima Golden Award. Kerja keras dan latihan berbulan-bulan yang dilakukan semata karena kami mencintai musik dan ingin memberikan kebanggaan bagi Indonesia,” kata Dr. Nathania Karina dengan rasa haru.
Doktor Musik yang Ingin Menjadi Astronaut
Aku bertemu dengan Dr. Nathania Karina di sebuah kedai kopi yang nyaman dengan desain yang unik, di dekat studio musik yang ia kelola. Studio musik yang selain difungsikan sebagai sekolah musik miliknya, Andante Music School, juga digunakan sebagai tempat latihan rutin TRUST Orchestra.
Ci Nia menceritakan bagaimana awal mula dirinya menekuni dunia musik. Ia mengaku, tak ada darah musik di keluarganya, hanya permintaan sederhana dari orang tua untuk les piano saat dirinya berusia 4 tahun.
Karena kecintaanya terhadap musik yang dipupuk sejak kecil, Ci Nia pun memutuskan melanjutkan pendidikan musik hingga meraih gelar Doctor of Musical Arts degree in Music Education di University of Boston dan Master of Music di University of Melbourne. Ia menyelesaikan seluruh pendidikan tingginya di bidang musik. Baginya, cintanya kepada musik harus disalurkan secara totalitas.
“Kalau dulu kan orang banyak berpikir karir di musik ini sebagai sesuatu yang agak ajaib gitu ya, nggak menjanjikan lah untuk masa depan, begitu anggapan orang,” tutur Ci Nia.
Di tengah luasnya kesempatan berkarir di luar negeri, Ci Nia justru memilih untuk kembali ke tanah air. Baginya, ini adalah panggilan hati untuk berkontribusi bagi Pendidikan musik di Indonesia.

Di tanah air, Ci Nia mendirikan sekolah musik Andante Music School dan sebuah yayasan bernama MusicMind, yang berfokus pada Pendidikan musik melalui seminar dan acara edukasi. Dan, yang tak kalah penting, Ci Nia mendirikan Trinity Youth Symphony Orchestra yang saat ini lebih dikenal dengan TRUST Orchestra, sebagai wadah bagi anak-anak muda untuk lebih memahami dan mencintai musik, terutama musik orkestra.
“kita pengen punya satu wadah untuk anak-anak muda, yang pengen main musik bersama, mencintai musik,” Jelas Ci Nia.
Dengan konsep yang berbeda dari grup musik orkestra pada umumnya, Ci Nia membungkus musik orkestra dengan drama treatikal yang ditampilkannya secara tematik dalam setiap pertunjukannya. Ci Nia ingin menghadirkan musik yang terasa dekat bagi anak muda, yang tak hanya didengar, tapi juga dipahami dan dinikmati oleh mereka yang sebelumnya asing dengan orkestra.
Siapa sangka, konsepnya itu sangat diterima oleh masyarakat, khususnya anak muda. Hingga saat ini 13 tahun TRUST Ochestra mampu berkarya untuk negeri. Dari sebelumnya hanya komunitas kecil yang cuma ingin bermain musik yang menyenangkan, kini menjadi komunitas besar yang terus berkembang. TRUST Orchestra saat ini telah menjadi sebuah kebanggaan. Bukan hanya bagi Ci Nia dan anggota komunitas, tapi bagi seluruh bangsa Indonesia, dengan prestasi dan penghargaan internasional yang diraihnya.
Bersama TRUST Orchestra, Ci Nia seolah telah berhasil mematahkan persepsi dan stigma masyarakat bahwa musik orkestra itu hanya untuk orang-orang tua, kuno dan membosankan.
“Ada anggapan kalau orkestra ini musik yang dianggap bosan. Sampai kalau ingin nonton, takut salah kostum. Dan anggapan-anggapan itu kami patahkan,” ucap Ci Nia dengan tersenyum.
Bahkan, dalam setiap konser, Ci Nia mengaku, selalu punya sapaan khas kepada para penonton untuk ikut bergembira saat menonton pertunjukan mereka.
“Persepsi orkestra yang tidak boleh bertepuk tangan, kemewahan busana suit and tie, kita mau buktikan kalau kita berbeda. Kita semua senang-senang disini,” sambungnya.
Di sela obrolan, ada cerita menarik yang Ci Nia sampaikan kepadaku, saat membahas gairah dan keinginannya untuk terus hidup dalam musik. Baginya, bermusik bukan lagi sekedar passion, tapi sudah menjadi tanggung jawab. Kemampuan bermusik harus dipegang seumur hidup, meski tak menjadi pekerjaan atau karir utama. Bahkan, Ci Nia menyebut, jika di kemudian hari dirinya diberi kesempatan menjadi astronaut, dia akan mengambil kesempatan itu.
“jika ditanya nih, aku diberi kesempatan untuk menjadi astronaut, mau nggak? Ya mau lah, ya aku ingin lah jadi astronaut, tapi dengan catatan, aku tetep bisa bermusik,” ucap Cik Nia sambil terkekeh renyah.
Cik Nia ingin masyarakat, terutama generasi muda, memandang pendidikan musik dan seni bagian dari tanggung jawab untuk memelihara tradisi dan budaya bangsa ini. Banyak orang berpendapat tujuan akhir dari pendidikan musik adalah bisa memainkan alat musik atau tampil di panggung. Padahal, menurutnya, esensi dari pendidikan musik adalah proses.
Di balik karya musik yang indah, ada hari-hari di mana frustrasi dirasakan saat latihan terasa sia-sia, ada titik jenuh ketika rasanya ingin berhenti saja. Seseorang yang sedang belajar musik artinya dia juga belajar menghargai proses. Ada karakter yang ditempa didalamnya, yakni belajar disiplin, tak mudah menyerah dan kemampuan mental untuk bangkit (resiliensi) setelah mengalami banyak kesulitan dan rasa frustasi. Prinsip itu haru menjadi pegangan anak-anak muda.
“Jangan pernah menyerah terhadap proses, karena itu akan menumbuhkanmu untuk maju dan berkembang,”pesan Ci Nia.
Meski, saat ini pendidikan musik maupun seni di Indonesia masih di pandang sebelah mata, namun Ci Nia tetap meyakini bahwa ke depannya, musik maupun seni di Indonesia akan ditempatkan pada posisi yang semestinya, diapresiasi dengan tinggi.
Di ujung percakapan kami, tak lupa Ci Nia menitipkan pesan, untuk disampaikan untuk disampaikan kepada para generasi muda Indonesia.
“Jangan pernah takut untuk memilih jalan seni. Karena seni lah yang membedakan kita dari mesin. Jadilah manusia yang bisa menciptakan dan merasakan melodi indah ” pungkasnya lembut, menutup wawancara kami.
*Penulis adalah siswi SMAN 42 Jakarta, Juara 1 lomba jurnalistik tingkat pelajar SMA di Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) se-Jakarta Timur II tahun 2026.

