Yala, Thailand – Senin, 3 Agustus 2026, pagi itu suasana Thamavitya Mulniti School yang terletak di Tambon Sateng, Amphoe Mueang Yala, Changwat Yala, Thailand, terasa berbeda dari biasanya. Siswa-siswi berkumpul dengan wajah penasaran, menanti kegiatan yang sudah
beberapa hari sebelumnya bikin mereka tidak sabar, Workshop Mini Zine.
Kegiatan ini digagas oleh delapan mahasiswa dan mahasiswi peserta KKN Internasional dari Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Leuwiliang, Bogor, yang terdiri dari tiga laki-laki dan lima perempuan dari berbagai program studi, yaitu M. Aulia Rahman, Laila Nur Azizah, Putri Anjani, dan Alyka Nasya Mahira dari Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Neng Perti Sephia dan Ulil Absor dari Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Afifah Hijriani dari Bimbingan Konseling Pendidikan Islam (BKPI), serta M. Faiq Akbar dari Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Selama menjalani pengabdian di Thailand, kedelapan mahasiswa ini tidak hanya membawa program-program formal, tapi juga mencoba menghadirkan sesuatu yang dekat dengan sisi emosional para siswi, sesuatu yang jarang dibahas secara terbuka di lingkungan
sekolah.
Mengusung tema “It’s Okay Not to Be Okay”, workshop kali ini mengajak siswi membuat mini zine, semacam buku mini yang dilipat hanya dari satu lembar kertas, tapi bisa diisi dengan gambar, tulisan tangan, kata-kata semangat, sampai harapan-harapan pribadi. Sederhana
memang, tapi justru dari situ para siswi diajak untuk jujur pada diri sendiri.
Sebelum mulai membuat, kakak-kakak KKN lebih dulu menjelaskan apa itu mini zine dan kenapa media ini bisa jadi cara yang asyik untuk mengungkapkan perasaan. Setelah itu, makna tema “It’s Okay Not to Be Okay” disampaikan pelan-pelan, bahwa setiap orang boleh saja merasa sedih, capek, atau sedang tidak baik-baik saja, dan itu bukan sesuatu yang perlu ditutupi. Setelah suasana mulai cair, barulah kakak-kakak mendemokan cara melipat dan mengisi mini zine dari satu lembar kertas.
Yang bikin kegiatan ini terasa lebih dari sekadar prakarya, tiap siswi diminta membuat tiga mini zine sekaligus, masing-masing dengan tujuan yang beda. Satu untuk diri sendiri saat ini, isinya semacam ungkapan perasaan hari itu juga. Satu lagi untuk teman, yang nanti ditukar secara acak, jadi tiap siswi akan menerima zine dari teman yang belum tentu mereka kenal dekat. Dan
satu lagi untuk diri sendiri di masa depan, berisi harapan dan mimpi yang mungkin baru akan
mereka baca lagi bertahun-tahun ke depan.
Saat sesi tukar zine berlangsung, suasana ruangan langsung ramai. Ada yang tertawa membaca pesan lucu dari temannya, ada juga yang diam-diam terharu karena mendapat kata-kata semangat yang tidak disangka. Kegiatan ditutup dengan sharing session, para siswi bergantian bercerita soal pengalaman dan perasaan mereka selama workshop berlangsung, sebelum akhirnya sesi dokumentasi dan penutupan acara.
Sepanjang kegiatan, antusiasme siswa-siswi Thamavitya Mulniti School terlihat jelas. Walau ada kendala bahasa, semangat kakak-kakak KKN dari IUQI Leuwiliang tetap berhasil membuat suasana jadi hangat dan akrab. Justru lewat gambar dan tulisan tangan itulah, batas bahasa yang tadinya jadi hambatan perlahan mencair.
Lewat kegiatan menulis, menggambar, dan berbagi cerita ini, harapannya para siswi jadi lebih terbuka mengenali dan menerima perasaannya sendiri, tumbuh rasa empati terhadap sesama, sekaligus mendapat sedikit ruang aman untuk berefleksi tanpa merasa harus terlihat baik-baik saja terus-menerus. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan bisa memupuk motivasi dan optimisme para siswi dalam menghadapi berbagai tantangan hidup ke depannya.
Dari sisi pelaksanaan, kegiatan ini berjalan lancar. Hampir seluruh siswi yang terdaftar hadir dan mengikuti acara sampai selesai, semua peserta berhasil menyelesaikan tiga mini zine sesuai tema, dan sesi tukar zine maupun diskusi kelompok berlangsung dengan partisipasi yang tinggi. Interaksi hangat antarpeserta pun terlihat jelas sepanjang acara, lewat saling berbagi pesan, dukungan, dan apresiasi satu sama lain.
Workshop sederhana ini jadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKN Internasional IUQI Leuwiliang, Bogor, selama bertugas di Thailand. Tidak muluk-muluk, hanya bermodal kertas dan ketulusan, tapi cukup untuk membuka ruang bagi para siswi belajar mengenali dan menerima diri mereka sendiri. Semoga semangat kolaborasi dan kepedulian yang terjalin antara mahasiswa Indonesia dan para siswi Thailand ini bisa terus berlanjut, dan jadi bagian kecil dari citra baik Indonesia di mata dunia lewat program KKN lintas negara semacam ini. (Perti Sephia)

