By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inilah KitaInilah KitaInilah Kita
  • Home
  • Sekitar Kita
  • DialeKita
  • Nusantara
  • Akademika
  • Komunitas
  • Generasi
  • Kiat Kita
Reading: Alffy Rev Menenun Kembali Kejayaan Masa Silam Negeri
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Inilah KitaInilah Kita
Font ResizerAa
  • Home
  • Sekitar Kita
  • DialeKita
  • Nusantara
  • Akademika
  • Komunitas
  • Generasi
  • Kiat Kita
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inilah Kita
Inilah Kita > Blog > Generasi > Alffy Rev Menenun Kembali Kejayaan Masa Silam Negeri
Generasi

Alffy Rev Menenun Kembali Kejayaan Masa Silam Negeri

Bagi Alffy Rev, karyanya adalah bentuk diplomasi budaya yang anggun, di mana fondasi leluhur yang digali dan digarap kembali dengan artistik modern untuk memperkenalkan indonesia pada next level

Redaksi
Redaksi Published 13/08/2026
Share
SHARE

Oleh: Keisya Ramadhani*

Paduan suara harmoni dipadu dengan Electronic Dance Music (EDM) mengawali narasi dari video musik berjudul “The Guardian of Nusantara” karya Alffy Rev. Perlahan, visual indah menggambarkan sang Garuda yang gagah muncul, melayang di atas lanskap alam Nusantara yang memanjakan mata, yang dilanjutkan ketukan musik yang menghentak, menyatu dengan talu gamelan yang sakral. Sehingga terciptalah sebuah simfoni yang memaksa bulu kuduk penonton berdiri.

Mata dan jiwa kita ikut terhanyut visualisasi Computer-Generated Imagery (CGI) kelas dunia yang menghidupkan kembali mitologi Nusantara. Secara naratif, The Guardian of Nusantara ini fokus pada perjalanan spiritual Wisnu, pemuda titisan maharaja yang terpilih untuk melaksanakan ritual penghormatan agung kepada Sang Garuda setiap satu abad sekali. Namun melalui metafora, Alffy Rev seolah ingin menghadirkan refleksi mendalam tentang pentingnya menjaga, memperjuangkan, dan melestarikan budaya Nusantara di tengah gempuran budaya modern di zaman ini.

Selain itu, melihat bagaimana teknologi masa kini justru menjadi media untuk menampilkan kisah warisan leluhur yang nyaris terlupa, menambah kekaguman kita akan mahakarya Alffy Rev tersebut. The Guardian of Nusantara bukan sekadar video musik, melainkan sebuah surat cinta epik untuk tanah air. Karya ini merupakan pahatan kebanggaan atas Indonesia dari ritus visual yang mengawinkan mitologi kuno tentang Indonesia, kesakralan musik tradisional, dengan modernitas dan teknologi masa depan. Karya ini seolah memanggil pulang jiwa-jiwa muda yang menontonnya untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Sangat layak kemudian The Guardian of Nusantara menjadi ikon dalam menyambut perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-79, di tahun 2024 lalu.

Bagi Alffy Rev, panggung musik bukan lagi sekedar tempat berdiri seorang pemusik, melainkan sebuah kanvas hidup. Ketika tren global berkiblat pada budaya barat atau pop Asia Timur, ia justru menggali fondasi tanah leluhur, lalu menggarapnya dengan standar sinematografi berkelas Hollywood. Ini adalah bentuk diplomasi budaya yang anggun, sebuah pernyataan tegas kepada dunia bahwa Indonesia adalah raksasa peradaban yang kaya akan karya seni visioner.

“Karena kita juga sudah di era kemajuan teknologi, dengan pola kehidupan dan minat yang berbeda. Jadi mungkin ini salah satu langkah saya untuk bisa membahas ulang seni dan kebudayaan yang kita punya, agar terus dikenal oleh generasi-generasi selanjutnya,” ucap Alffy, saat aku berkesempatan melalukan wawancara secara bold (online) beberapa waktu lalu.

Keheningan adalah Kekuatan

Memang agak sulit untuk membuat agenda pertemuan dan melakukan wawancara dengan Alffy Rev, mengingat kesibukannya mengerjakan banyak proyek dan padatnya agenda dia sebagai seorang musisi dan public figure . Selain itu, Alffy Rev juga lebih banyak menghabiskan waktunya di studio miliknya sekaligus rumah produksinya bersama tim yang ia beri nama “Dewatlantis”, yang berlokasi di sebuah desa kecil dataran tinggi di pulau Bali.

Meski begitu, Alffy Rev masih menyempatkan waktunya untuk melakukan wawancara meski secara online melalui saluran Zoom Meeting, pada bulan Mei lalu, di sela padatnya agenda dan kesibukannya.

Kak Alffy, begitu aku berkumpul saat wawancara, bercerita bagaimana ia menemukan ide kreatif dan proses kreatif dari karya-karya yang ia buat. Ia menyebut, karya-karya yang dihasilkan kebanyakan orang lahir dari kenyamanan, kesunyian, dan kesendirian. Baginya, itu merupakan bentuk kontemplasi. Dan, dari sanalah ia menemukan kemurnian dalam menciptakan semua mahakaryanya.

“Ya kalau ide sih kebanyakan dari kontemplasi atau meditasi ya. Saya percaya bahwa keheningan itu punya suara yang lebih dahsyat dari inspirasi manapun. Saya lebih sering justru menyendiri, menyerap segala energi. Saya percaya keheningan itu punya power rate tersendiri,” ungkap Kak Alffy.

Hal ini kontras dengan kehidupan artis papan atas yang biasanya memenuhi kehidupan glamor dan bisingnya kota, Kak Alffy bersama tim Dewatlantis justru memilih mengasingkan diri untuk mencerminkan cara berpikir, bekerja, bermusik, dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas.

“Aku percaya, mungkin kekuatan aku sendiri memang sangat mencintai ketenangan, kesunyian, karena di situ kemurnian lebih terasa,” ujarnya

Kak Alffy Rev yang bernama asli Awalur Rizqi Al Firori ini bukan hanya seorang musisi, ia juga seorang pelaut, produser, sineas sekaligus sutradara. Alffy Rev adalah seorang maestro muda pada zaman ini. Seorang penenun peradaban yang mengawinkan keluhuran tradisi Nusantara dengan kecanggihan teknologi digital. Musik digital EDM yang lekat dengan teling anak muda saat ini ia lebur dengan elemen musik tradisional Nusantara seperti gamelan Jawa, gamelan Bali, sasando, hingga instrumen perkusi Dayak.

Tak heran jika kemudian Kak Alffy mendapatkan banyak penghargaan, baik dari luar maupun dalam negeri. Di antaranya, ia memenangkan dua penghargaan di Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2023 untuk kategori Video Musik Terbaik dan Grafis Desain Album Terbaik melalui karya “Alffy Rev and The True Friends”.

Melalui jiwa artistiknya, seni budaya Indonesia tidak lagi dipandang sebagai warisan masa lalu yang usang dan berdebu. Melainkan, sebuah mahakarya masa depan yang mewah, artistik, dan berwibawa di mata dunia.

“Harapan aku sih, Indonesia bisa dikenal secara next level baik seninya, budayanya, alamnya, keberagamaannya, serta seluruh kekayaan yang dimiliki dunia,” tutur Kak Alffy.

Di usianya yang memasuki 31 tahun pada bulan Juni kemarin, Kak Alffy mengaku tak bisa berhenti untuk terus mengembangkan ide kreatifnya. Bersama tim Dewatlantis, ia pun banyak melakukan perjalanan ekspedisi ke wilayah-wilayah pelosok di seluruh Indonesia. Perjalanan yang telah ia mulai beberapa tahun lalu yang ia beri judul “Ekspedisi Wonderland Indonesia”.

Dalam ekspedisi tersebut, ia banyak mengeksplorasi budaya di Indonesia yang selama ini belum menarik dan tertarik. Baginya, perjalanan ekspedisi Wonderland Indonesia adalah sebuah penelitian panjang, yang akan terus ia lakukan untuk lebih mengenalkan lagi Kebudayaan Indonesia ke mata dunia.

“Tujuan kami, untuk mengarsipkan budaya-budaya yang selama ini belum tersentuh dan ter- expove ,” ucap Kak Alffy menjelaskan.

Melalui Expedition Wonderland Indonesia pula ia membuat karya-karya baru untuk menunjukkan kepada dunia, betapa kaya dan megahnya alam Indonesia.

Harapannya kelak, ia bisa merangkum dan menyediakan semuanya dalam sebuah karya film layar lebar. Kak Alffy tidak menjelaskan apakah nantinya karya itu berupa film dokumenter atau film bergenre mitologi seperti halnya video musik The Guardian of Nusantara. Yang pasti, membuat karya film untuk disajikan di bioskop atau layar lebar merupakan salah satu mimpi terbesarnya.

“Mungkin ini salah satu langkah saya untuk bisa membahas ulang kebudayaan yang kita punya untuk generasi-generasi selanjutnya,” tuturnya.

Di akhir sesi wawancara, tak lupa Kak Alffy memberikan pesan kepada generasi muda untuk terus membangun karakter generasi muda yang peduli dan mengapresiasi seni dan budaya Indonesia, sehingga tumbuh kesadaran untuk bangga menjadi bangsa Indonesia. Ia menyadari bahwa musuh bangsa terbesar di zaman ini adalah ‘amnesia budaya’. Untuk itu, melalui Wonderland Indonesia, The Guardian of Nusantara, dan karya-karya lainnya, Kak Alffy hanya ingin mengingatkan kepada kita semua untuk selalu menjunjung dan merawat seni dan budaya Indonesia sebagai identitas bangsa.

Sehingga kelak Indonesia tidak hanya dikenal karena kejayaan masa lalunya, namun juga sangat siap memimpin masa depan dengan keindahan dan kekayaan alam, seni dan budayanya.

“Harapannya sih, semoga Wonderland Indonesia, The Guardian of Nusantara, dan karya-karya lainnya menjadi karya yang monumental, karya yang bukan hanya ditonton tetapi juga akan dirayakan bersama,” pungkas Kak Alffy, menutup sesi wawancara kami.

* Penulis adalah siswi SMAN 42 Jakarta, Juara 1 lomba jurnalistik tingkat pelajar SMA di Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) se-Jakarta Timur II tahun 2026.

Keisya Ramadhani

TAGGED:Alffy RevFLS3N 2026Keiysa RamadhaniSMAN 42 Jakarta
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Email
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Jecko Siompo Maestro Tari yang Tak Dikenali di Negeri Sendiri

Latest News

Jecko Siompo
Maestro Tari yang Tak Dikenali di Negeri Sendiri
Generasi
Dr. Nathania Karina bersama TRUST Orchestra
Simfoni yang Menghapus Persepsi, TRUST Orchestra Buka Ruang Anak Muda Berkarya Melalui Orkestra
Generasi
Workshop Mini Zine “It’s Okay Not to Be Okay”, Cara Mahasiswa KKN Internasional IUQI Leuwiliang Ajak Siswi Thailand Belajar Menerima Perasaan
Akademika Generasi Komunitas
top up game
Top Up FF Kilat Tanpa Perlu Login Akun yang Merepotkan
Sekitar Kita
Upaya Pencegahan Pinjol dan Judi Online Serta Solusi Bagi Siswa
Akademika
Ekspedisi Bandung Manokwari untuk Pengiriman Perlengkapan Interior
Nusantara
Cara Kita Berbicara, Cara Kita Dipahami
Cara Kita Berbicara, Cara Kita Dipahami
Akademika

JASA ARTIKEL SEO

Mau website usaha Anda mudah ditemukan dalam mesin pencari Google? Digital Media Labs melayani jasa penulisan artikel SEO.
Hubungi kami di: 081297176001

Jasa Blogroll & Publikasi

  1. Suara Muslim
  2. Seputar Masjid
  3. Seputar Halal
  4. Seputar Kuliner
  5. Seputar Kesehatan
  6. Promo UKM
  7. Wisata Indonesia
  8. Beasiswa Kampus
  9. Indonesia Sentris
  10. Seputar Rumah
  11. Seputar Keamanan
  12. Kota Surabaya
  13. Info Nasional
  14. Info Perkotaan
  15. Berita Santai
  16. Berita Kamera
  17. Suara Pesantren
  18. Info Market

 

Jasa Publikasi di 150+ Website

Baca Artikel Lain

Generasi

Scroll Boleh, Stres Jangan: Manajemen Waktu dan Emosi di Era Digital untuk Remaja

17/02/2026
ajeng sman 8 jakarta
Generasi

Ajeng Murid SMAN 8 Jakarta Raih Sertifikat Puspresnas Kemendikdasmen

10/02/2026
Generasi

Hubungan Big Five Personality Traits dengan Kerentanan Stres Generasi Z

27/11/2025
volunter WMSJ 2025
Generasi

WMSJ 2025 Buka Pendaftaran Volunteer untuk Pemuda Usia 17–35 Tahun

13/07/2025
Previous Next

Ikon Logo Inilah Kita

Jasa Blogroll & Publikasi Artikel

Promo UKM | Wisata Indonesia | Media Outsourcing | Beasiswa Kampus | Indonesia Sentris | Seputar Rumah | Seputar Keamanan | Kota Surabaya | Info Nasional | Info Perkotaan | Ini Bekasi | Suara Muslim | Seputar Masjid | Seputar Halal | Seputar Kuliner | Suara Pesantren |Kesehatan | Portal Mahasiswa | Kirim Artikel | Info Pasar

Kategori

  • Akademika
  • DialeKita
  • Generasi
  • Kiat Kita
  • Komunitas
  • Nusantara
  • Sekitar Kita

Inilah Kita

  • About
  • Kontak
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media
  • Term & Condition
Seedbacklink

Inilah KitaInilah Kita
©2024 Inilah Kita
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?