Inilah Kita | Komunikasi lisan merupakan kemampuan dasar yang dibutuhkan di hampir semua bidang kehidupan, mulai dari ruang kelas, organisasi, dunia kerja, hingga kehidupan bermasyarakat. Salah satu bentuk komunikasi lisan yang paling terstruktur adalah pidato, yaitu penyampaian gagasan secara lisan di hadapan pendengar dengan tujuan tertentu, seperti memberi informasi, mengajak, atau memeriahkan suatu acara. Sejak masa retorika klasik, pidato dipahami bukan sekadar urusan isi, tetapi juga soal bagaimana pembicara membangun kredibilitas, menyentuh perasaan, dan menyusun alasan yang masuk akal bagi pendengarnya.
Meskipun penting, keterampilan berpidato belum dikuasai dengan baik oleh banyak pelajar dan mahasiswa. Penelitian pada kelas bahasa Indonesia melaporkan bahwa kemampuan berpidato siswa masih tergolong rendah dan sebagian siswa merasa gugup serta salah tingkah ketika berbicara di depan khalayak [7]. Pada sisi lain, pembelajaran keterampilan berpidato disebut masih sering dilakukan secara konvensional sehingga perlu dikembangkan model yang lebih inovatif dan berbasis pengalaman [3].
Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini membahas tiga pertanyaan: (1) bagaimana konsep dan struktur pidato yang efektif, (2) unsur apa saja yang memengaruhi kualitas penyampaian pidato, dan (3) strategi apa yang dilaporkan dapat mengembangkan keterampilan berpidato. Tujuannya adalah merangkum temuan-temuan tersebut sebagai bahan rujukan bagi pembelajar, pendidik, maupun siapa pun yang ingin berlatih berpidato.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka (studi literatur) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data berupa artikel jurnal berbahasa Indonesia yang ditelusuri secara daring menggunakan kata kunci “keterampilan berpidato” dan “public speaking”. Delapan artikel dipilih karena topiknya langsung berkaitan dengan pidato atau berbicara di depan umum. Setiap artikel dibaca, dikelompokkan berdasarkan fokus bahasannya (unsur penyampaian, kepercayaan diri, dan model pembelajaran), kemudian dirangkum dan dibandingkan. Keterbatasan kajian ini ialah sebagian temuan dirangkum dari abstrak dan bagian awal artikel, sehingga pembaca disarankan merujuk ke naskah lengkapnya.
Hasil dan Pembahasan
1. Konsep, Jenis, dan Struktur Pidato
Pidato dapat dikelompokkan menurut tujuannya. Pidato informatif bertujuan menjelaskan suatu topik, pidato persuasif bertujuan memengaruhi sikap atau tindakan pendengar, pidato seremonial dibawakan pada acara khusus seperti sambutan dan wisuda, sedangkan pidato impromptu disampaikan spontan tanpa persiapan panjang. Pidato persuasif mendapat perhatian khusus dalam pembelajaran karena menuntut pembicara memadukan argumen, pilihan kata, dan cara penyampaian sekaligus, seperti tampak pada penelitian tentang model multisensori untuk keterampilan berpidato persuasif mahasiswa [8].
Secara umum, pidato tersusun atas tiga bagian. Pembukaan berfungsi menyapa dan menarik perhatian, misalnya lewat pertanyaan, cerita singkat, atau fakta mengejutkan. Isi memuat tiga sampai empat gagasan utama yang disusun runtut dan didukung contoh atau data. Penutup merangkum pesan inti, mengajak pendengar bertindak, dan mengucapkan terima kasih. Struktur yang jelas membantu pendengar mengikuti alur, terutama karena mereka tidak dapat “membaca ulang” apa yang sudah disampaikan.
2. Unsur Kebahasaan dan Nonkebahasaan
Kualitas pidato ditentukan oleh unsur kebahasaan, seperti pilihan kata, kalimat, dan ketepatan penyampaian pesan, serta unsur nonkebahasaan, seperti suara, ekspresi, dan gerak tubuh. Pelatihan public speaking yang dilaporkan dalam salah satu artikel berfokus pada pengelolaan vokal dan gestur, dan menunjukkan bahwa peserta menjadi lebih percaya diri serta lebih paham teknik berbicara di depan umum setelah pelatihan [1]. Temuan ini sejalan dengan anjuran praktis untuk memvariasikan volume, intonasi, dan jeda, serta menjaga kontak mata agar penyampaian tidak monoton dan tidak bergantung pada naskah.
Selain itu, kenali pendengar sebelum menyusun pidato. Bahasa, contoh, dan tingkat kerumitan materi perlu disesuaikan dengan latar belakang pendengar agar pesan benar-benar diterima. Pembicara juga dianjurkan memakai kalimat pendek dan jelas, karena kejelasan lebih menentukan keberhasilan pidato daripada kerumitan bahasa.
3. Kepercayaan Diri dan Kecemasan Berbicara
Rasa gugup merupakan hambatan yang paling sering dialami pembicara pemula. Siswa yang belum terbiasa cenderung gugup dan canggung saat berpidato di depan khalayak [7]. Di sisi lain, kegiatan public speaking dilaporkan dapat memperkuat karakter, termasuk kepercayaan diri, empati, dan keterampilan sosial [4]. Hal ini menunjukkan bahwa latihan berpidato tidak hanya melatih kemampuan berbahasa, tetapi juga membentuk sikap yang berguna dalam interaksi sosial. Kegugupan tidak perlu dihilangkan sepenuhnya; yang terpenting adalah mengelolanya, misalnya dengan menarik napas dalam sebelum mulai dan berlatih berulang sehingga rasa gugup berubah menjadi energi.
4. Strategi dan Model Pembelajaran
Beberapa penelitian menawarkan pendekatan pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpidato. Pertama, pembelajaran berbasis proyek yang memanfaatkan video dipakai untuk melatih keterampilan berpidato mahasiswa [2]. Perancangan model keterampilan berpidato inovatif yang memadukan pendekatan komunikatif, pembelajaran berbasis proyek, dan media digital interaktif juga dikembangkan melalui penelitian dan pengembangan. Berdasarkan wawancara dengan 609 siswa kelas XI di beberapa SMA di Jakarta, model tersebut dinilai sangat dibutuhkan dan layak diterapkan [3].
Kedua, model simulasi diterapkan pada mahasiswa program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia melalui penelitian tindakan kelas, dan keterampilan pidato mahasiswa dilaporkan meningkat setelah penerapannya [6]. Ketiga, teknik modeling, yaitu memberikan contoh yang dapat diamati lalu ditiru siswa, digunakan untuk mengatasi rendahnya kemampuan berpidato siswa SMP [7]. Keempat, model multisensori yang mengoptimalkan beberapa indera diterapkan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menyampaikan pidato persuasif [8].
Selain model di dalam kelas, kegiatan di luar kelas juga berperan. Penelitian di sebuah madrasah aliyah mengkaji hubungan antara kegiatan muhadharah, yaitu latihan berpidato rutin, dengan kemampuan public speaking peserta didik [5]. Dengan demikian, kesempatan berlatih yang berulang dan terjadwal menjadi bagian penting dari pengembangan keterampilan berpidato.
5. Implikasi Praktis
Dari kajian di atas, ada beberapa implikasi bagi pembelajar dan pendidik. Pembelajar perlu menyusun pidato dengan struktur yang jelas, berlatih di depan cermin atau merekam suara sendiri, serta memperhatikan vokal dan gestur. Pendidik perlu menyediakan contoh (modeling), kesempatan praktik yang sering, dan media yang membuat siswa dapat meninjau penampilannya sendiri, misalnya rekaman video. Sekolah dan lembaga juga dapat memfasilitasi kegiatan rutin seperti muhadharah agar berpidato menjadi kebiasaan, bukan beban.
Kesimpulan
Pidato adalah keterampilan yang dapat dipelajari, bukan bakat bawaan. Berdasarkan kajian pustaka, pidato yang efektif bertumpu pada pemahaman terhadap pendengar, struktur yang jelas, pengelolaan suara dan gestur, serta latihan yang konsisten. Berbagai model pembelajaran, yaitu berbasis proyek dan video, simulasi, modeling, serta multisensori, telah diterapkan untuk meningkatkan keterampilan ini, dan kegiatan public speaking dilaporkan turut menumbuhkan kepercayaan diri dan keterampilan sosial. Penelitian selanjutnya dapat membandingkan efektivitas model-model tersebut secara langsung atau meneliti pidato pada konteks nonakademik, seperti organisasi dan dunia kerja.
Daftar Pustaka
- Jaini, & Sa’i, M. (2025). Public speaking: Teknik berbicara di depan umum dalam mengelola vokal dan gesture yang SANISKALA: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(1), 25–34. https://ejournal.unma.ac.id/index.php/saniskala
- Nuraeni, I., Harisah, S., Karim, A., Taha, N., & Sahrin, A. (2024). Keterampilan berpidato mahasiswa dalam bentuk video melalui pembelajaran berbasis proyek: Pendekatan reflektif. Ranah: Jurnal Kajian Bahasa, 13(2), 412–426. https://doi.org/10.26499/rnh.v13i2.7800
- Siregar, , Herlina, H., & Utami, S. R. (2025). Desain model keterampilan berpidato inovatif. Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, 15(2), 340–351. https://doi.org/10.23969/literasi.v15i2.24122
- Ayuningtyas, , Intyaswati, D., Tayibnapis, R. G., & Saputra, W. T. (2025). Penguatan karakter melalui kegiatan keterampilan public speaking. Jurnal SOLMA, 14(1), 972–982. https://doi.org/10.22236/solma.v14i1.16853
- Mastura, N., Risnawati, R., Rizqa, M., & Sukmawati, S. (2025). Relevansi kegiatan muhadharah dengan kemampuan public speaking peserta didik di MAN 1 ENGGANG: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 6(1), 525–535. https://doi.org/10.37304/enggang.v6i1.24869
- Martha, U. (2015). Peningkatan keterampilan pidato dengan model simulasi mahasiswa semester gasal PBSI Unsoed. Bahastra, 33(2), 31–42. https://doi.org/10.26555/bahastra.v33i2.2716
- Tiang, F. P. R. (2020). Penerapan teknik modeling untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Indonesia dalam menyampaikan pidato persuasif di kelas IXA SMP Negeri 1 Mego. Journal on Teacher Education, 2(1), 167–176. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jote/article/viewFile/1146/pdf
- (2019). Penerapan model multisensori untuk meningkatkan keterampilan berbicara mahasiswa dalam menyampaikan pidato persuasif. Jurnal Artikula, 2(2), 26–32.https://doi.org/10.30653/006.201922.24
