Oleh: Yons Achmad
(Kolumnis, tinggal di Depok)
Bagi kalangan intelektual, kaum terdidik, isi pidato Prabowo yang terlihat meremehkan diskusi, studi banding, Focus Group Discussion (FGD), seminar-seminar, kajian, tentu agak memprihatinkan. Demi alasan efisiensi, kegiatan-kegiatan tersebut menurutnya perlu ditiadakan. Sebelum melangkah jauh komentari “omon-omon” Prabowo itu, satu pertanyaan kecil yang perlu diajukan. Atas dasar apa efisiensi itu dilakukan, apakah juga tanpa kajian?
Kita tak bisa menghakimi. Tapi, teramat banyak contoh, apapun kebijakan pemerintah, tanpa kajian, kebijakan itu bisa dipastikan bakal amburadul. Atau mungkin memang sudah ada kajian, tapi tidak mendalam. Kita sudah buktikan, “ideologi” kerja-kerja-kerja tanpa “mikir”, tanpa kajian (yang mendalam) menjadikan tatanan benar-benar rusak, berantakan, ambudarul dalam 10 tahun terakhir.
Saya, demi akal sehat yang saya yakini, harus berani mengatakan demikian. Kenapa? Pembangunan infrastruktur yang tanpa kajian (mendalam) malah bikin negara merugi. Kasus Jakarta monorail, “Candi” Hambalang, bandara-bandara yang dibangun mewah tapi sepi “bak kuburan” semisal bandara Kertajati (Majalengka), Ngloram (Blora), Wiriadinata (Tasikmalaya), JB Sudirman (Purbalingga) dll, bahkan ada yang benar-benar tutup. Terakhir, tentu proyek ambisius Ibu Kota Nusantara (IKN) yang juga berpotensi mangkrak. Penyebabnya? Tentu saja, salah satunya tanpa kajian (mendalam).
Dalam sebuah pidato, Prabowo pernah mengatakan, “Tidak usah lagi apa itu, FGD-FGD, apa itu? Focus apa, focus group discussion. It’s too late. We don’t need to discuss. Look for solution, carry out the solution.” Di hadapan Muslimat NU, dalam pidato tempo hari, Prabowo mengatakan “Seminar cukup, kajian cukup, FGD apa itu forum group discussion, forum group discussion (dengan gesture meledek), mau diskusi apa lagi, itu tuh entaskan kemiskinan absolut, bantu rakyat yang lapar cari makan, sekolah yang rusak perbaiki, jalan yang rusak perbaiki, diskusi…diskusi..”
Dalam filosofi Jawa, pidato itu tampak benar (gemuruh tepuk tangan menggema dalam acara yang melibatkan banyak emak-emak itu). Tapi, rasa-rasanya tidak “pener”, tidak peka dalam menangkap situasi zaman. Termasuk, tidak peka sejarah. Kita bisa lihat, bagaimana performa, lagi-lagi saya katakan, pemerintahan 10 tahun terakhir. Dibangun dengan filosofi “kerja..kerja..kerja” tanpa “mikir”. Hasilnya, kebobrokan dan borok-borok pembangunan bisa kita saksikan sekarang. Ada yang bilang “Maksudnya Prabowo itu baik, semata-mata untuk rakyat.” Saya kira, pidato, retorika setiap presiden selalu begitu, selalu mengatasnamakan rakyat. Tapi praktiknya, yang sering terjadi sebaliknya.
Sementara, dalam tradisi ilmiah, komunitas akademis, misalnya persoalan FGD tak bisa dipandang enteng sebelah mata begitu saja. Ia saya kira, tak lagi bisa diremehkan dan dianggap hanya sekadar misalnya “metode” yaitu cara yang teratur dan berpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. Tetapi, ia saya kira bisa melangkah jauh sebagai “metodologi”.
Jika yang pertama sebatas “cara” menemukan, yang selanjutnya adalah “ilmu” menemukan. Perkara FGD ini, saya kira, dalam tradisi ilmiah, sudah semestinya diberikan “marwah” dan mendudukkannya secara terhormat, tak diremehkan begitu saja. Apalagi dalam praktiknya, ia juga mensyaratkan seorang moderator (ahli) di bidangnya, dengan peserta yang juga para praktisi dan ahli dibidangnya pula. Apakah pantas diremehkan begitu saja?
Di sini, saya juga sedikit agak heran. Kenapa, misalnya diskusi, seminar-seminar, kajian termasuk FGD sering dianggap tidak kerja, bahkan kalau mengikuti istilah Prabowo sebagai hanya “omon-omon” saja. Saya kira ini mitos dan kesalahan (kesesatan) berpikir. Sementara, kalau kita cermati pidato-pidato Prabowo, lebih banyak kata-kata “Saya ingin, saya akan….”. Bung. Sekarang sudah presiden, bukan era janji kampanye. Eranya bilang “Saya sudah ini, saya sudah itu…bukan saya akan..saya akan”. Apa boleh buat, hasilnya, apa yang sudah dikerjakan Prabowo selama 100 hari kerjanya? Semoga tak ada yang bilang, hanya “omon-omon” saja. []