By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Inilah KitaInilah KitaInilah Kita
  • Home
  • Sekitar Kita
  • DialeKita
  • Nusantara
  • Akademika
  • Komunitas
  • Generasi
  • Kiat Kita
Reading: Maestro Tari yang Tak Dikenali di Negeri Sendiri
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Inilah KitaInilah Kita
Font ResizerAa
  • Home
  • Sekitar Kita
  • DialeKita
  • Nusantara
  • Akademika
  • Komunitas
  • Generasi
  • Kiat Kita
Follow US
  • Advertise
© 2024 Inilah Kita
Inilah Kita > Blog > Generasi > Maestro Tari yang Tak Dikenali di Negeri Sendiri
Generasi

Maestro Tari yang Tak Dikenali di Negeri Sendiri

Bagi Jecko Siompo, idealisme seni adalah udara, yang membuat seniman seperti dirinya bisa terus hidup dan bernapas. Udara, yang tak pernah bisa ditutup dan selalu menemukan jalannya sendiri untuk terus berhembus, untuk memberikan kehidupan.

Redaksi
Redaksi Published 12/08/2026
Share
Jecko Siompo
SHARE

Oleh: Nur Ainy Qolsum Altain*

Sore itu, di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat, terasa lebih tenang dari biasanya. Suara tawa masih terdengar di kejauhan, tapi langkah orang-orang mulai melambat. Seperti ada ritme baru yang pelan-pelan mengambil alih ruang itu. Sore seakan memberi jeda, membuat siapa pun yang singgah betah diam sedikit lebih lama dari rencana awalnya.

Di salah satu sudut pelataran, seorang pria duduk santai, berbincang ringan tanpa kesan berjarak. Penampilannya sederhana, gerak tubuhnya tenang, seolah ia hanyalah pengunjung biasa yang sedang menikmati waktu sore. Tidak ada gestur yang berlebihan, tidak ada upaya untuk menegaskan siapa dirinya.

Namun, siapa sangka, di balik kesederhanaannya itu, dia adalah penari dan koreografer, seorang maestro tari Indonesia yang diakui dunia. Pencipta dari aliran (genre) tari kontemporer bernama Animal Pop. Sebuah genre tari yang menggabungkan gerakan tari dinamis, hip-hop, dan gerakan-gerakan binatang dalam sebuah mimikri yang dimainkan dalam gerakan ritmik yang sempurna. Pria itu bernama Jecko Siompo.

Jecko yang berasal dari Papua memang tumbuh dalam kedekatan yang kuat dengan alam serta kehidupan binatang. Sejak kecil dirinya memang suka menari, dalam gerakan tubuh yang eksplosif. Bagi Jecko, tanah kelahirannya di Jayapura bukan hanya menjadi latar masa kecilnya, tetapi juga membentuk cara Jecko melihat tubuh sebagai sesuatu yang hidup, responsif, dan tidak terpisah dari alam. Di sana, Jecko belia mengasah kemampuannya menari di sanggar tari tradisional Rawori Dok 8 Bawah, Jayapura, Papua.

Setelah menyelesaikan sekolah di SMA Negeri 2 Jayapura Utara, Pria kelahiran 1975 itu ingin memperdalam lagi seni tari yang bergitu ia cintai dengan melanjutkan kuliah di jurusan tari, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di tahun 1994.

Di IKJ, kemampuannya semakin terasah. Tak hanya tari Papua yang ia kuasai, tetapi juga tari dari daerah lain, seperti Pulau Jawa dan Sumatra. Keinginan untuk mencipta telah membawanya pada eksplorasi gerak tari dari Sabang sampai Merauke. Dalam perjalanannya, Jecko aktif terlibat dalam berbagai festival dan pertunjukan. Jecko bahkan memperluas perjalanan artistiknya dengan mengikuti Kuan Du Art Festival Taipei di Taiwan.

Dan, di Tahun 1997 lah menjadi milestone bagi perjalanan karir dan penemuan artistik seni gerak Jecko. Saat itu, ia memenangi kompetisi yang diadakan di Gedung Kesenian Jakarta.

Kesuksesan itu membawanya terbang jauh untuk mempelajari seni gerak dan budaya baru di luar negeri. Iya, setahun kemudian setelah memenangkan kompetisi itu, seorang kurator dari salah satu festival tari di Amerika tertarik pada Jecko. Ia pun diundang belajar tarian hip-hop di Amerika, tepatnya di Portland, Maine, AS. Di sana, awal perkenalannya dengan tari modern kontemporer.

“Enggak tahu, saya beruntung banget. Dia bilang, sudah kamu ke sana, kamu tampil, nanti kamu workshop, ikut kelas-kelas dance,”  ujar pria bernama lengkap Jeck Kurniawan Siompo Pui itu.

Jecko mendapat banyak ilmu dan pengalaman selama di Amerika. Tidak hanya memperkenalkannya pada hip-hop dan teknik street dance, juga pada cara pandang yang lebih bebas terhadap tubuh dan ekspresi. Proses berinteraksi dengan sesama penari di Amerika juga turut membawa Jecko untuk lebih menyelami budaya Barat. Dari berbagai pengaruh yang ia serap, ia tidak sekadar meniru, melainkan mengolahnya kembali menjadi sesuatu yang berbeda.

Dari proses panjang itu, lahirlah Animal Pop, sebuah pendekatan gerak yang tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga tentang naluri dan pengalaman hidup.

Animal Pop adalah sebuah perpaduan menarik dari tarian pribumi, mimikri gerakan binatang dan tarian urban masa kini. Gerakannya sering kali tampak tidak mengikuti pola yang biasa dikenali dalam tari konvensional. Ada kesan liar, patah, bahkan terkadang seperti tidak terkontrol jika dilihat sekilas. Namun justru dari ketidakteraturan itu, Jecko membangun sistem gerak yang lain, sebuah cara membaca tubuh yang tidak hanya bertumpu pada keindahan visual, tetapi juga pada energi, insting, dan respons spontan terhadap ruang.

Dalam kacamata Jecko, Animal Pop juga merupakan penggabungan dua jenis budaya, antara barat dan timur. Animal Pop adalah perpaduan gerakan purba dan primitif yang diwakili binatang serta modernisasi yang dilambangkan dengan budaya pop.

”Pada awalnya saya menamainya Animal Dance. Karena memang saya banyak berguru kepada binatang. Lalu, sepulang dari Amerika di tahun 1999 itu, saya gabungkan dengan seni tari pop Amerika, yakni breakdance. Maka jadilah animal pop seperti sekarang ini,” tutur Jecko.

Animal Pop lahir menjadi sebuah karya seni tari kontemporer yang dikagumi dunia. Jecko mengaku, beberapa gerakan dasar dari Animal Pop punya kekuatan yang tak dimiliki tari kontemporer lain. Seperti, tangan menekuk dan bahu ke belakang, dagu dan dada ke depan, kaki diangkat ke depan lalu tendang ke belakang. Mimikri dari perilaku binatang yang mengilhami karya seni ciptaannya itu.

“Ada semacam budaya pop dan lokal, jadi garis benang merah animal adalah pencarian saya dari Aceh sampai Merauke untuk spirit binatang,” terangnya.

Undangan untuk menampilkan Animal Pop pun tak pernah surut. Dalam setahun, bisa sampai lima kali Jecko mementaskan Animal Pop ke luar negeri. Pada setiap penampilannya, Jecko mengaku, Animal Pop selalu mendapatkan standing applause.

Jecko Siompo bersama Animal Pop tampil di Salihara International Performing Art Festival 2024

Ia menjelaskan bahwa di luar negeri, penonton tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga ikut merasakan proses pencarian dan perjalanan yang terjadi di baliknya. Respons mereka cenderung lebih terbuka. Mereka bisa tertawa spontan, merespons langsung terhadap gerakan, bahkan sering melanjutkan percakapan setelah pertunjukan berakhir. Dalam situasi seperti itu, Animal Pop tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang aneh, tetapi dipahami sebagai bahasa yang memiliki logikanya sendiri.

Ia juga beberapa kali terlibat dalam dance company di luar negeri. Dari pengalaman itu, ia melihat bagaimana dunia tari kontemporer tidak memiliki batas yang kaku. Setiap ruang membawa konteksnya sendiri, dan setiap konteks membuka kemungkinan gerak yang berbeda.

”Saya menjadi duta bangsa untuk menari ini rasanya tak pernah terbayangkan. Saya membawa identitas saya sebagai orang Indonesia dan Papua. Saya tak pernah capek menyebarkan pesan, Indonesia itu ada,” tegas Jecko.

Sementara, Saat kembali ke Indonesia, situasinya menjadi berbeda. Tak banyak undangan untuk tampil. Tapi, Jecko pernah menampilkan Animal Pop dalam sebuah pertunjukan kolosal, hanya beberapa kali saja.

Menurutnya, di Indonesia, Animal Pop masih belum diterima sepenuhnya. Masih ditempatkan dalam ruang kreasi tanpa apresasi. Dianggap pula bukan bagian dari budaya dan tradisi seni.

“Di sini, untuk karya seni kontemporer masih kurang diapresiasi,” ungkap Jecko.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan lapisan pengalaman yang panjang. Di satu sisi, ada ruang untuk bereksperimen dan mencipta. Namun di sisi lain, tak memberi waktu baginya untuk berkembang. Dalam kondisi seperti itu, proses kreatif sering kali tidak terlihat sebagai bagian penting dari karya.

Bagi seorang seniman, menurut Jecko, segala hambatan dihadapi bukanlah kendala untuk berkreasi. Melainkan, kesempatan untuk berkontemplasi dan melakukan banyak lagi eksplorasi dalam seni. Termasuk saat pandemi Covid-19 melanda. Tak ada lagi undangan kepada dirinya untuk tampil. Nyaris tidak lagi kegiatan dan latihan yang bisa dilakukan. Tapi ia tetap tak berhenti bergerak, menciptakan karya dalam seni. Terus memperkenalkan Indonesia kepada dunia lewati seni, melalui ruang digital dan siniar.

Baginya, idealisme seni adalah udara, yang membuat seniman terus hidup dan bernapas. Udara, yang tak pernah bisa ditutup dan selalu menemukan jalannya sendiri untuk terus berhembus, untuk memberikan kehidupan.

*Penulis adalah siswi SMAN 42 Jakarta, Juara Harapan 1 lomba jurnalistik tingkat pelajar SMA di Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) se-Jakarta Timur II tahun 2026.

Nur Ainy Qolsum Altain

TAGGED:Animal PopFLS3N 2026Jecko SiompoMaestro TariNur Ainy Qolsum AltainSMAN 42 Jakarta
Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Email
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Dr. Nathania Karina bersama TRUST Orchestra Simfoni yang Menghapus Persepsi, TRUST Orchestra Buka Ruang Anak Muda Berkarya Melalui Orkestra

Latest News

Dr. Nathania Karina bersama TRUST Orchestra
Simfoni yang Menghapus Persepsi, TRUST Orchestra Buka Ruang Anak Muda Berkarya Melalui Orkestra
Generasi
Workshop Mini Zine “It’s Okay Not to Be Okay”, Cara Mahasiswa KKN Internasional IUQI Leuwiliang Ajak Siswi Thailand Belajar Menerima Perasaan
Akademika Generasi Komunitas
top up game
Top Up FF Kilat Tanpa Perlu Login Akun yang Merepotkan
Sekitar Kita
Upaya Pencegahan Pinjol dan Judi Online Serta Solusi Bagi Siswa
Akademika
Ekspedisi Bandung Manokwari untuk Pengiriman Perlengkapan Interior
Nusantara
Cara Kita Berbicara, Cara Kita Dipahami
Cara Kita Berbicara, Cara Kita Dipahami
Akademika
Mengambil Keputusan Tanpa Bola Kristal: Cara Manajer Memilih di Tengah Ketidakpastian
Akademika

JASA ARTIKEL SEO

Mau website usaha Anda mudah ditemukan dalam mesin pencari Google? Digital Media Labs melayani jasa penulisan artikel SEO.
Hubungi kami di: 081297176001

Jasa Blogroll & Publikasi

  1. Suara Muslim
  2. Seputar Masjid
  3. Seputar Halal
  4. Seputar Kuliner
  5. Seputar Kesehatan
  6. Promo UKM
  7. Wisata Indonesia
  8. Beasiswa Kampus
  9. Indonesia Sentris
  10. Seputar Rumah
  11. Seputar Keamanan
  12. Kota Surabaya
  13. Info Nasional
  14. Info Perkotaan
  15. Berita Santai
  16. Berita Kamera
  17. Suara Pesantren
  18. Info Market

 

Jasa Publikasi di 150+ Website

Baca Artikel Lain

Generasi

Scroll Boleh, Stres Jangan: Manajemen Waktu dan Emosi di Era Digital untuk Remaja

17/02/2026
ajeng sman 8 jakarta
Generasi

Ajeng Murid SMAN 8 Jakarta Raih Sertifikat Puspresnas Kemendikdasmen

10/02/2026
Generasi

Hubungan Big Five Personality Traits dengan Kerentanan Stres Generasi Z

27/11/2025
volunter WMSJ 2025
Generasi

WMSJ 2025 Buka Pendaftaran Volunteer untuk Pemuda Usia 17–35 Tahun

13/07/2025
Previous Next

Ikon Logo Inilah Kita

Jasa Blogroll & Publikasi Artikel

Promo UKM | Wisata Indonesia | Media Outsourcing | Beasiswa Kampus | Indonesia Sentris | Seputar Rumah | Seputar Keamanan | Kota Surabaya | Info Nasional | Info Perkotaan | Ini Bekasi | Suara Muslim | Seputar Masjid | Seputar Halal | Seputar Kuliner | Suara Pesantren |Kesehatan | Portal Mahasiswa | Kirim Artikel | Info Pasar

Kategori

  • Akademika
  • DialeKita
  • Generasi
  • Kiat Kita
  • Komunitas
  • Nusantara
  • Sekitar Kita

Inilah Kita

  • About
  • Kontak
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media
  • Term & Condition
Seedbacklink

Inilah KitaInilah Kita
©2024 Inilah Kita
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?