Oleh: Nur Ainy Qolsum Altain*
Sore itu, di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat, terasa lebih tenang dari biasanya. Suara tawa masih terdengar di kejauhan, tapi langkah orang-orang mulai melambat. Seperti ada ritme baru yang pelan-pelan mengambil alih ruang itu. Sore seakan memberi jeda, membuat siapa pun yang singgah betah diam sedikit lebih lama dari rencana awalnya.
Di salah satu sudut pelataran, seorang pria duduk santai, berbincang ringan tanpa kesan berjarak. Penampilannya sederhana, gerak tubuhnya tenang, seolah ia hanyalah pengunjung biasa yang sedang menikmati waktu sore. Tidak ada gestur yang berlebihan, tidak ada upaya untuk menegaskan siapa dirinya.
Namun, siapa sangka, di balik kesederhanaannya itu, dia adalah penari dan koreografer, seorang maestro tari Indonesia yang diakui dunia. Pencipta dari aliran (genre) tari kontemporer bernama Animal Pop. Sebuah genre tari yang menggabungkan gerakan tari dinamis, hip-hop, dan gerakan-gerakan binatang dalam sebuah mimikri yang dimainkan dalam gerakan ritmik yang sempurna. Pria itu bernama Jecko Siompo.
Jecko yang berasal dari Papua memang tumbuh dalam kedekatan yang kuat dengan alam serta kehidupan binatang. Sejak kecil dirinya memang suka menari, dalam gerakan tubuh yang eksplosif. Bagi Jecko, tanah kelahirannya di Jayapura bukan hanya menjadi latar masa kecilnya, tetapi juga membentuk cara Jecko melihat tubuh sebagai sesuatu yang hidup, responsif, dan tidak terpisah dari alam. Di sana, Jecko belia mengasah kemampuannya menari di sanggar tari tradisional Rawori Dok 8 Bawah, Jayapura, Papua.

Setelah menyelesaikan sekolah di SMA Negeri 2 Jayapura Utara, Pria kelahiran 1975 itu ingin memperdalam lagi seni tari yang bergitu ia cintai dengan melanjutkan kuliah di jurusan tari, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di tahun 1994.
Di IKJ, kemampuannya semakin terasah. Tak hanya tari Papua yang ia kuasai, tetapi juga tari dari daerah lain, seperti Pulau Jawa dan Sumatra. Keinginan untuk mencipta telah membawanya pada eksplorasi gerak tari dari Sabang sampai Merauke. Dalam perjalanannya, Jecko aktif terlibat dalam berbagai festival dan pertunjukan. Jecko bahkan memperluas perjalanan artistiknya dengan mengikuti Kuan Du Art Festival Taipei di Taiwan.
Dan, di Tahun 1997 lah menjadi milestone bagi perjalanan karir dan penemuan artistik seni gerak Jecko. Saat itu, ia memenangi kompetisi yang diadakan di Gedung Kesenian Jakarta.
Kesuksesan itu membawanya terbang jauh untuk mempelajari seni gerak dan budaya baru di luar negeri. Iya, setahun kemudian setelah memenangkan kompetisi itu, seorang kurator dari salah satu festival tari di Amerika tertarik pada Jecko. Ia pun diundang belajar tarian hip-hop di Amerika, tepatnya di Portland, Maine, AS. Di sana, awal perkenalannya dengan tari modern kontemporer.
“Enggak tahu, saya beruntung banget. Dia bilang, sudah kamu ke sana, kamu tampil, nanti kamu workshop, ikut kelas-kelas dance,” ujar pria bernama lengkap Jeck Kurniawan Siompo Pui itu.
Jecko mendapat banyak ilmu dan pengalaman selama di Amerika. Tidak hanya memperkenalkannya pada hip-hop dan teknik street dance, juga pada cara pandang yang lebih bebas terhadap tubuh dan ekspresi. Proses berinteraksi dengan sesama penari di Amerika juga turut membawa Jecko untuk lebih menyelami budaya Barat. Dari berbagai pengaruh yang ia serap, ia tidak sekadar meniru, melainkan mengolahnya kembali menjadi sesuatu yang berbeda.
Dari proses panjang itu, lahirlah Animal Pop, sebuah pendekatan gerak yang tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga tentang naluri dan pengalaman hidup.
Animal Pop adalah sebuah perpaduan menarik dari tarian pribumi, mimikri gerakan binatang dan tarian urban masa kini. Gerakannya sering kali tampak tidak mengikuti pola yang biasa dikenali dalam tari konvensional. Ada kesan liar, patah, bahkan terkadang seperti tidak terkontrol jika dilihat sekilas. Namun justru dari ketidakteraturan itu, Jecko membangun sistem gerak yang lain, sebuah cara membaca tubuh yang tidak hanya bertumpu pada keindahan visual, tetapi juga pada energi, insting, dan respons spontan terhadap ruang.
Dalam kacamata Jecko, Animal Pop juga merupakan penggabungan dua jenis budaya, antara barat dan timur. Animal Pop adalah perpaduan gerakan purba dan primitif yang diwakili binatang serta modernisasi yang dilambangkan dengan budaya pop.
”Pada awalnya saya menamainya Animal Dance. Karena memang saya banyak berguru kepada binatang. Lalu, sepulang dari Amerika di tahun 1999 itu, saya gabungkan dengan seni tari pop Amerika, yakni breakdance. Maka jadilah animal pop seperti sekarang ini,” tutur Jecko.
Animal Pop lahir menjadi sebuah karya seni tari kontemporer yang dikagumi dunia. Jecko mengaku, beberapa gerakan dasar dari Animal Pop punya kekuatan yang tak dimiliki tari kontemporer lain. Seperti, tangan menekuk dan bahu ke belakang, dagu dan dada ke depan, kaki diangkat ke depan lalu tendang ke belakang. Mimikri dari perilaku binatang yang mengilhami karya seni ciptaannya itu.
“Ada semacam budaya pop dan lokal, jadi garis benang merah animal adalah pencarian saya dari Aceh sampai Merauke untuk spirit binatang,” terangnya.
Undangan untuk menampilkan Animal Pop pun tak pernah surut. Dalam setahun, bisa sampai lima kali Jecko mementaskan Animal Pop ke luar negeri. Pada setiap penampilannya, Jecko mengaku, Animal Pop selalu mendapatkan standing applause.

Ia menjelaskan bahwa di luar negeri, penonton tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga ikut merasakan proses pencarian dan perjalanan yang terjadi di baliknya. Respons mereka cenderung lebih terbuka. Mereka bisa tertawa spontan, merespons langsung terhadap gerakan, bahkan sering melanjutkan percakapan setelah pertunjukan berakhir. Dalam situasi seperti itu, Animal Pop tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang aneh, tetapi dipahami sebagai bahasa yang memiliki logikanya sendiri.
Ia juga beberapa kali terlibat dalam dance company di luar negeri. Dari pengalaman itu, ia melihat bagaimana dunia tari kontemporer tidak memiliki batas yang kaku. Setiap ruang membawa konteksnya sendiri, dan setiap konteks membuka kemungkinan gerak yang berbeda.
”Saya menjadi duta bangsa untuk menari ini rasanya tak pernah terbayangkan. Saya membawa identitas saya sebagai orang Indonesia dan Papua. Saya tak pernah capek menyebarkan pesan, Indonesia itu ada,” tegas Jecko.
Sementara, Saat kembali ke Indonesia, situasinya menjadi berbeda. Tak banyak undangan untuk tampil. Tapi, Jecko pernah menampilkan Animal Pop dalam sebuah pertunjukan kolosal, hanya beberapa kali saja.
Menurutnya, di Indonesia, Animal Pop masih belum diterima sepenuhnya. Masih ditempatkan dalam ruang kreasi tanpa apresasi. Dianggap pula bukan bagian dari budaya dan tradisi seni.
“Di sini, untuk karya seni kontemporer masih kurang diapresiasi,” ungkap Jecko.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan lapisan pengalaman yang panjang. Di satu sisi, ada ruang untuk bereksperimen dan mencipta. Namun di sisi lain, tak memberi waktu baginya untuk berkembang. Dalam kondisi seperti itu, proses kreatif sering kali tidak terlihat sebagai bagian penting dari karya.
Bagi seorang seniman, menurut Jecko, segala hambatan dihadapi bukanlah kendala untuk berkreasi. Melainkan, kesempatan untuk berkontemplasi dan melakukan banyak lagi eksplorasi dalam seni. Termasuk saat pandemi Covid-19 melanda. Tak ada lagi undangan kepada dirinya untuk tampil. Nyaris tidak lagi kegiatan dan latihan yang bisa dilakukan. Tapi ia tetap tak berhenti bergerak, menciptakan karya dalam seni. Terus memperkenalkan Indonesia kepada dunia lewati seni, melalui ruang digital dan siniar.
Baginya, idealisme seni adalah udara, yang membuat seniman terus hidup dan bernapas. Udara, yang tak pernah bisa ditutup dan selalu menemukan jalannya sendiri untuk terus berhembus, untuk memberikan kehidupan.
*Penulis adalah siswi SMAN 42 Jakarta, Juara Harapan 1 lomba jurnalistik tingkat pelajar SMA di Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) se-Jakarta Timur II tahun 2026.

