Inilahkita.com | Jakarta — Jika kita selama ini merasakan kondisi di Indonesia, mana umat Islam menjadi mayoritas. Lantas, bagaimana kondisi umat Islam yang tinggal di Amerika, Eropa, Afrika, di negara-negara di mana mereka menjadi minoritas?
Tentu ada banyak kisah menarik, sedih, sekaligus menggugah pemahaman kita tentang pentingnya ukhuwah (ikatan persaudaraan) dalam Islam.
Kisah, yang diceritakan secara gamblang oleh Abdul Malik Mujahid, seorang pemimpin komunitas muslim di Chicago, Amerika Serikat (AS) –di sana disebut Imam, yang datang ke Indonesia, bertemu dengan awak media di Gedung Menara Dakwah, Kantor Dewan Dakwah Islam, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, pekan lalu, Sabtu (1/2/2025).
Imam Malik, begitu ia biasa disapa, menceritakan bagaimana menjadi muslim minoritas di Amerika kerap mendapatkan kondisi kurang mengenakkan. Ancaman kekerasan, bullying, penangkapan (penjara) hingga pembunuhan sering mereka alami. Ancaman dan perlakukan tersebut tak hanya didapatkan dari komunitas agama lain maupun kelompok ideologi tertentu, tetapi juga dari negara atau pemerintahan di negara yang mereka tinggali.
Ia mengaku, sebagai kelompok minoritas, di Amerika, seperti halnya di Inggris, Prancis dan negara-negara dengan muslim minoritas lainnya, umat muslim tidak memiliki kekuatan untuk membela diri.
“Kami, sebagai minoritas, tak memiliki kekuatan untuk membela diri,” ungkapnya.
Untuk itu, Imam Malik menyambung ceritanya, umat muslim di Amerika selalu berusaha membuka dialog dengan siapa saja di sana, baik terkait masalah sosial maupun tentang ajaran Islam. Tak hanya kepada masyarakat umum, dialog juga dilakukan ke berbagai kelompok maupun komunitas agama lain, bahkan dengan parlemen maupun dengan pemerintah.
Dengan begitu, dapat membuka mata masyarakat di Amerika sana, dan membalikkan pandangan mereka tentang Islam yang selama ini digambarkan sebagai agama kekerasan, agama perang dan terorisme. Gambaran, yang memang sengaja diproduksi secara sistematis, terstruktur, terpusat, dan terkoordinir untuk kemudian disebar ke seluruh dunia sebagai informasi.
Dari hasil penelusurannya, ada lebih dari 300 informasi yang diproduksi setiap hari, baik berupa pemberitaan, artikel, analisa dan informasi akademis, maupun konten, yang diproduksi oleh sebuah lembaga yang memiliki jaringan dengan pemerintah, yang memberikan informasi yang keliru –cenderung menyudutkan– tentang Islam.
“Kami mengetahui, ada satu lembaga yang terafiliasi dengan pemerintah, lebih dari 300 informasi yang mereka produksi dan sebarkan ke seluruh dunia, setiap hari, untuk menyudutkan Islam,” ungkapnya.
Imam Malik yang juga menjabat sebagai presiden dari Justice For All, sebuah lembaga internasional yang berperan aktif dalam perlindungan kaum minoritas di seluruh dunia, mengaku, dengan membuka dialog, kehidupan muslim di Amerika sedikit lebih baik dibandingkan dengan umat muslim yang tinggal di beberapa negara Eropa, di Afrika, dan Asia, seperti India, Kamboja, dan beberapa negara lainnya.
“Setiap bulan Justice For All melakukan pertemuan dengan pihak pemerintah maupun parlemen untuk membahas tentang isu yang terkait dengan dunia Islam yang berkembang di Amerika,” ucapnya.
“Hingga saat ini, masjid kami di Chicago telah didatangi lebih dari 500 ribu orang, baik wisatawan maupun masyarakat yang ingin tahu tentang Islam,” sambungnya.
Sementara, di Afrika Tengah, Imam Malik mendapati sebuah negara yang dahulu terdapat 800 masjid di sana. Namun, saat ini hanya tersisa 2 saja masjid yang masih berdiri di sana. Keadaan umat muslim di sana pun juga dalam kondisi serba kekurangan. Bersama lembaganya, Justice For All, dirinya sering menyampaikan bantuan ke sana.
Bantuan yang sama, juga sering disampaikan kepada umat muslim dan kaum minoritas yang dalam kondisi serba kekurangan di Asia seperti Bangladesh.
“Kami pernah menyampaikan bantuan 500 ribu dolar untuk muslim Bangladesh,” ucapnya.
Cerita yang agak mengagetkan justru datang dari India. Negara yang dulu pernah menjadi salah satu pusat kejayaan Islam di dunia saat dikuasai dinasti Mughal, dengan meninggalkan warisan Taj Mahal, Benteng Merah, dan Masjid Moti, kini menjadi negara yang tidak aman bagi penduduknya yang beragama Islam.
Di India, sambung Imam Malik, umat muslim pada kondisi di bawah tekanan dan ancaman kekerasan. Ada sebagian wilayah tertentu yang menjadi “restricted area” bagi umat muslim di sana. Umat muslim tidak diperkenankan mendirikan sholat apapun, termasuk sholat Jumat di wilayah tersebut. Seorang muslim bisa 3 kali ditangkap oleh pihak keamanan tanpa alasan yang jelas. Tak hanya oleh penguasa, ancaman kekerasan dan pembunuhan juga didapatkan dari kelompok dan komunitas agama mayoritas di sana. Umat Islam di India, tidak bisa membela diri.
“Ada perintah kuil dan sayembara untuk melakukan pembunuhan terhadap muslim di India, dengan target 100 ribu orang muslim dibunuh, dan diberikan hadiah bagi siapapun yang melakukannya. Bahkan, atas perintah kuil pula, ada seorang gadis muslim berumur 10 tahun yang diperkosa beramai-ramai, hingga meninggal dunia,” ungkapnya dengan wajah sedih.
Imam Malik yang delapan kali dinobatkan sebagai “500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia” ini menyebut, ada lebih dari 400 juta umat muslim yang menjadi minoritas yang tinggal di lebih dari 100 negara. Dan, berdasarkan data dari Brown University, ada 4,5 juta umat Islam yang terbunuh karena perang dan kekerasan.
“Tidak ada orang yang peduli dengan hal ini,” tuturnya.
Mengapresiasi Pidato Prabowo di KTT Mesir
Kedatangannya ke indonesia kali ini, selain untuk menceritakan kondisi sebenarnya yang dialami umat muslim yang menjadi minoritas di negaranya dan negara-negara lain di dunia, Imam Malik juga ingin bertemu dengan Presiden Prabowo untuk menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas pidato yang disampaikan Prabowo pada KTT Mesir, 2024 lalu.
Ia menyebut, Prabowo sebagai sosok pemimpin negeri muslim yang jujur dan berani yang secara tegas mengkritisi para pemimpin muslim di negara-negara Islam yang justru saling bermusuhan dan terpecah belah, sehingga melemahkan solidaritas serta dukungan terhadap umat muslim di seluruh dunia, serta menyebut Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional “bukan untuk orang Muslim” saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-11 di Kairo, Mesir, Desember 2024 silam.
“Kami sangat mengapresiasi peranan Indonesia dan kepemimpinan Presiden Prabowo, terlebih saat beliau menyampaikan di Mesir bahwa HAM bukanlah untuk umat Islam, ini menumbuhkan kekaguman kami kepada Indonesia,” ucapnya.
Ia mengaku, umat muslim muslim yang tinggal di negara-negara sebagai minoritas yang membutuhkan bantuan dan dukungan dari negara-negara di mana muslim menjadi mayoritas, seperti Indonesia.
“Umat muslim di negara-negara di mana mereka menjadi minoritas sangat membutuhkan bantuan, dukungan, dan support dari umat muslim mayoritas seperti Indonesia,” ucap Imam Malik.
Ia berharap, Indonesia dapat berperan lebih besar lagi untuk mendukung penegakan keadilan bagi semua manusia, termasuk hak-hak bagi komunitas muslim yang menjadi minoritas di banyak negara.